Selasa, 29 November 2011

BERTAUBAT MENUJU AMPUNAN ALLAH


Sebagai mana kita ketahui tidak seorangpun diantara kita yang terluput dari kesalahan-kesalahan, setiap diri anak manusia, pasti pernah melakukan kesalahan minimal kesalahan yang kecil dan setiap diri kita ini tidak pernah luput darinya. Baik kesalahan itu berhubungan dengan hak-hak sesama manusia, lagi-lagi kesalahan yang kita perbuat yang berkaitan dengan hak-hak Allah. Dimana kesalahan yang berhubungan dengan hak-hak Allah lah yang paling banyak dilakukan oleh makhluk yang bernama manusia. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan b erkaitan dengan mendzalani hak-hak Allah subhanahu wata’ala dilakukan bisa jadi karena tanpa disadari, atau kesalahan-kesalahan yang diperbuat karena tidak tidak mengetahui bahwa yang diperbuat itu adalah sebuah kesalahan ( ketiadaan ilmu ), dapat pula kesalahan-kesalahan itu dilakukan karena adanya unsur lupa, dan yang terakhir adalah kesalahan yang dengan sengaja dan sadar dikerjakan meskipun tahu bahwa apa yang dilakukannya merupakan sebuah kesalahan yang memberikan resiko dibelakang hari.

Kesalahan yang dilakukan atas syari’at agama merupakan pelanggaran yang berdampak terhadap adanya dosa, sedangkan dosa-dosa yang diperoleh manusia akan berdampak kepada kehidupan diakhirat kelak apabila tidak segera dilakukan upaya penghapusannya melalui permintaan ampun dan taubat kepada Allah yang Maha Pengampun .

Dosa-Dosa Yang Harus Dimintakan Ampunan

Seluruh pelanggaran syari’at baik dia berupa pengabaian kewajiban maupun pelanggaran larangan adalah perbuatan dosa, tanpa memandang besar kecilnya dosa yang dilakukan baik yang berkaitan dengan hak-hak manusia maupun hak-hak Allah subhanahu wata’ala harus dimintakan ampunan.

Sebagaimana yang banyak dinukilkan oleh para ulama dalam berbagai kitabnya bahwa dosa itu terdiri atas dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, sesuai dengan firman Allah di surah an-Nisa’ ayat 31:

إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan- kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Dalam firman Allah di surah an-Najm ayat : 32 disebutkan :

-

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),” ( QS. Al-Furqan : 68 )

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya menyebutkan :

صحيح مسلم ١٢٩: حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

Shahih Muslim 129: Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa'id al-Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Tsaur bin Zaid dari Abu al-Ghaits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang membinasakan." Dikatakan kepada beliau, "Apakah tujuh dosa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina."

Abdullah bin Mas’ud radhyallahu anhu berkata : “Dosa-dosa besar yang paling besar adalah : Syirik kepada Allah, merasa aman dari tipu daya Allah, putus asa dari rahmat Allah dan karunia-Nya.

Sa’id bin Jubair b erkata , “ ada seseorang yang bertanya kepada Ibnu Abas tentang dosa-dosa besar , apakah jumlahnya ada tujuh?. Maka Ibnu Abas menjawab, “ Jumlahnya lebih dekat tujuh ratus macam. Hanya saja tidak ada istilah dosa besar selagi disertai istigfar, dan ada istilah dosa kecil selagi dilakukan terus menerus . Segala sesuatu yang dilakukan terus menerus . Segala sesuatu yang dilakukan untuk mendurhakai Allah, disebut dosa besar. Maka barang siapa yang melakukan sebagian di dosa itu, hendaklah memohon ampunan kepada Allah, karena Allah tidak mengekalkan seseorang dari umat ini di dalam neraka kecuali orang yang keluar dari islam, atau mengingkari satu kewajiban atau mendustakan takdir.

Selanjutnya Ibnu Qaiyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata : bahwa seorang hamba tidak berhak mendapat sebutan orang yang bertaubat kecuali setelah dia membebaskan diri dari perkara-perkara yang harus dimintakan ampunan, yang jenisnya ada dua belas, seperti yang disebutkan di dalam kitab Allah, yang semuanya merupakan jenis-jenis perkara yang diharamkan, yaitu : kufur, syirik, fusuk, kedurhakaan, dosa, pelanggaran, kekejian, kemungkaran, aniaya, mengeluarkan perkataan terhadap Allah tanpa dilandasi dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin.

( Terjemahan Madarujus Salikin Pendakian Menuju Allah, Pustaka Al-Kautsar hal. 63-65 )

Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan bahwa hal-hal yang membangkitkan dosa terbagi dalam empat sifat yaitu :

1.Sifat-sifat rububiyah ( penuhanan ) . Dari sinim uncul takabur, membanggakan diri ( ujub ), mencintai pujian dan sanjungan,mencari popularitas dan ketenaran serta lain-lainnya. Ini termasuk dosa-dosa yang merusak, sekalipun banyak orang yang melalaikannya dan menganggapnya bukan dosa.

2. Sifat syaithaniyah ( kesyetanan ). Dari sini muncul kedengkian, kesewenang-wenangan, menipu, berdusta, maker, kemunafikan, menyuruh kepada kerusakan dan lain-lainnya.

3. Sifat-sifat bahimiyah ( kebinatangan ). Dari sini muncul kejahatan, memenuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan,perbuatan zina, homosex, mencuri, bertindak kejam untuk memn uaskan hawa nafsu dan lain-lainnya.

4. Sifat sabu’iyah ( kebuasan ) . Dari sinbi muncul samara, dengki, menyerang orang lain, membunuh, memukul, merampas harta dan lain-lainnya.

Inilah induk-induk dosa dan sumber-sumbernya. Kemudian dosa-dosa ini memancar dari sumber-sumberfnya keaktifitys fisik dan keseluruh badan. Sebagian diantaranya ada yang mendekam di dalam hati, seperti pemikitan bid’ah, kemunafikan, memendam kejahatan, dan sebagian lainnya ada di mata, di kaki, dan sebagian yang lainnya lagi di badan.

Kemudian dosa-dosa itu juga dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Kaitannya dengan hak manusia

2. Kaitan antara hamba dan Rabbnya.

Dosa yang berkaitan dengan hak manusia lebih berat. Sedangkan yang kaitannya antara hamba dan Raabnya lebih mudah untuk dimintakan ampunan, kecuali yang berupa syirik, yang samasekali tidak akan diampuni ( Terjemahan Minhajul Qashidin Jalan Orang-Orang Yang Mendapatkan Petunjuk, Pustaka Al-Kausar hal 321-322 ).

Imam Dz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan dalam kitab Al-Kaba’ir ( Dosa-Dosa Yang Membinasakan) bahwa ada 76 dosa-dosa yang termasuk dalam dosa besar. Dosa besar yang pertama adalah menyekutukan Allah ( syirik ).Syirik adalah engkau menjadikan adanya sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu. Engkau beribadah kepada-Nya dan juga beribadah kepada selain-Nya, seperti beribadah(menyemnah) kepada batu, manusia, matahari. Nabi, syaikh, jin, bintang, malaikat dan lain-lainnya.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” ( QS. An-Nisaa : 48 )

Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". ( QS. Luqman : 13 )

Barang siapa yang menyekutukan Allah kemudian mati dalam keadaan musyrik, maka dapat dipastikan ia akan menjadi penghuni neraka . Demian pula halnya dengan orang yang beriman kepada Allah, kemudian meninggal dalam keadaan beriman, maka ia akan menjadi penghuni surge meskipun diazab terlebih dahulu

Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

صحيح البخاري ٥٥٢٠: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَبَائِرَ أَوْ سُئِلَ عَنْ الْكَبَائِرِ فَقَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ فَقَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ قَالَ شُعْبَةُ وَأَكْثَرُ ظَنِّي أَنَّهُ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ

Shahih Bukhari 5520: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; telah menceritakan kepadaku 'Ubaidullah bin Abu Bakr dia berkata; saya mendengar Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan tentang dosa besar atau beliau ditanya tentang dosa besar, lalu beliau menjawab: "Menyekutukan Allah, membunuh jiwa dan durhaka kepada kedua orang tua." Lalu beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian yang termasuk dari dosa besar?" beliau bersabda: "Perkataan dusta atau beliau bersabda: "Kesaksian palsu." Syu'bah mengatakan; "Dan saya menyangka bahwa beliau mengatakan; "Kesaksian palsu."

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

صحيح البخاري ٢٥٦٠: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Shahih Bukhari 2560: Telah bercerita kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah berkata telah bercerita kepadaku Sulaiman bin Bilal dari Tsaur bin Zaid Al Madaniy dari Abu 'Al Ghoits dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu'min yang suci berbuat zina".

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam menjelaskan tentang dosa-dosa kecil yang berubah menjadi dosa besar menyebutkan : Ketahuilah bahwa dosa kecil itu bisa membesar karena beberapa sebab, diantara adalah karena;

1. Dosa itu dilakukan secara terus-menerus.Dosa besar yang pernah dilakukan lahu tidak dikerjakan lagi, lebih diharapkan ampunannya daripada dosa kecil yang terus –menerus dilakukan hamba.

2. Menganggap remeh dosa tersebut. Selagi suatu dosa dianggap besar oleh hamba, maka dosa itu menjadi di sisi Allah.Namun selagi hamba menganggapnya kecil dan remeh, maka ia menjadi besar di sisi Allah. Dosa itu dianggap besar oleh hamba, karena hatinya ingin menghindarinya dan tidak suka kepadanya.

Ibnu Mas’ud radhyallahu anhu berkata : ‘ Sesungguhnyan orang mukmin itu melihat dosa-dosanya, seakan-akan dia sedang berada di kaki gunung. Dia takut gunung itu akan menimpa dirinya, danm sesungguhnya orang yang durhaka itu melihat dosa-dosanya sepertiseekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu dia b erkata , cukup begini saja, maksudnya cukup dengan menepiskan tangannya.

3. Seseorang merasa senang melakukan dosa kecil dan bahkan membanggakannya, seperti perkataannya : Tidaklah engkau tahu bagaimana aku telah mencabik-cabik kehormatan si fulan dan bagaimana aku dapat menceritakan keburukan dan kegagalannya.”

4. Menceritakan dosa yang telah dilakukannya kepada orang lain. Di dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu hurairah radhyallahu anhu :

صحيح مسلم ٥٣٠٦: حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ قَالَ سَالِمٌ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةٌ إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ فَيَقُولُ يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

قَالَ زُهَيْرٌ وَإِنَّ مِنْ الْهِجَارِ

Shahih Muslim 5306: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, Muhammad bin Hatim dan Abdu bin Humaid, berkata Abdu: telah menceritakan kepadaku, sedang yang lain berkata: telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami keponakan Ibnu Syihab dari pamannya berkata: Salim berkata: Saya mendengar Abu Hurairah berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang menampak-nampakkan (dosa) dan sesungguhnya diantara menampak-nampakkan (dosa) adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam kemudian di waktu paginya telah ditutupi oleh Rabbnya lalu ia berkata: 'Wahai fulan semalam aku telah melakukan ini dan itu, ' padahal pada malam harinya (dosanya) Telah ditutupi oleh Rabbnya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) Telah ditutupi oleh Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutup oleh Allah'." Zuhair berkata dan sesungguhnya termasuk dari Hijar (menampak-nampakkan dosa).

Taubat Menurut Al-Qur’an.

Ibnu Qaiyim rahimahullah berkata : “ Banyak orang yang menafisiri taubat dengan tekad untuk tidak kembali mengulangi dosa, melepaskan diri darinya seketika itu pula dan menyesali apa yang telah dilakukannya di masa lampau. Jika dosa itu berkaitan dengan hak seseorang, maka dibutuhkan cara lain yaitu membebaskan diri dari dosa itu. Sementara taubat menurut penyampaian Allah dan Rasul-Nya, disamping hal-hal tersebut diatas juga meliputi tekad untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dan mengikutinya. Jadi taubat tidak sebatas membebaskan diri dari dosa , tekad dan menyesal, yang kemudian dia disebut orang yang bertaubat, sehingga ia mempunyai tekad yang bulat untuk mengerjakan apa yang diperintahkan dan mengikutinya. Hakikat taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengerjakan apa-apa yang dicintainya dan meninggalkan apa-apa yang dibenci-Nya atau kembali dari sesuatu yang dibenci kepada sesuatu yang dicintainya. Firman Allah Subhanahu wata’ala :

-

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ( QS. An-Nur : 31 )

Ayat tersebut diatas menyebutkan bahwa setiap oranmg yang bertaubat adalah orang yang beruntung. Seseorang tak akan beruntung kecuali dengan mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. ( QS. Al-Hujarat : 11 )

Orang yang meninggalkan apa yang diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang adalah orang dzalim. Untuk menghilangkan sebutan dzalim ini, hanya bisa dilakukan dengan taubat, yang menghimpun dua perkara sekaligus.

Memelihara hukum-hukum Allah merupakan bagian dari taubat. Seseorang dikatakan bertaubat, karena di kembali kepada perintah Allah dari larangan-Nya, kembali kepada ketaatan dari kedurhakaan kepada-Nya.

( Terjemahan Madarijus salikin Pendakian Menuju Allah, Pustaka Al-Kautsar hal.58 )

Taubat dan Istigfar ( Memohon Ampunan )

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS.Az-Zumar : 53 )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa : ayat diatas dimaksukan untuk larangan berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala, meskipun telah banyak melakukan dosa dan juga tidak boleh membuat orang lain putus asa dari rahmat-Nya.Setiap orang yang bertaubat dari dosa apapun, maka sesungguhnya Allah menerima Taubatnya.

Orang yang hidup tanpa taubat maka tiada ampunan baginya. Sebagaimana dijelaskan pada beberapa ahyat dalam al-Qur’an, Allah tidak mengampuni orang yang mati dalam keadaan kafir, sebagaimana dalam Firman Allah ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ مَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. “ ( QS. Muhammad : 34 )

Ahlus Sunnah dan jumhur ulama berpendapat bahwa taubat itu bisa diterima dari dosa apapun. Dan Allah Maha pengampun atas dosa-dosa hambanya. Setiap orang yang bertaubat dari dosa apapun , maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. “ ( QS. An-Nisaa : 116 ).

Ayat tersebut diatas mengenai orang yang tidak bertaubat atas kesyirikannya, karena syirik tidak diampuni Allah kecuali dengan taubat. Sedangkan dosa-dosa selain syirik terserah kepada Allah, jika Dia berkehendak maka dia akan mengampuni-Nya. Dan jika Dia berkehendak Dia akan menimpakan siksaan kepadanya.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata : “ Bertaubat dan beristigfar ( mohon ampun ) wajib dilakukan jika seseorang meninggalkan suatu kewajiban, Allah Ta’ala berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal” ( QS. Muhammad : 19 )

Firman Allah Ta’ala :

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” (QS.Huud:3)

Dengan demikian , taubat dan istigfar (meminta ampun) dilakukan karena meninggalkan perintah dan melakukan larangan, sebab sesungguhnya keduamya termasuk keburukan, kesalahan dan dosa.

Meninggalkan iman, tauhid dan berbagai kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah sebagai ibadah hati dan badan termasuk dosa tanpa diragukan bagi setiap orang, bahkan dosa terbesar dari kedua kelompok tersebut. Sebab,meninggalkan kewajiban lebih besar dosanya daripada melakukan larangan, karena hal tersebut termasuk dalam katagori meninggalkan iman dan tauhid. Siapa yang beriman, dia tidak kekal di dalam neraka meskpiun ia telah melakukan dosa. Sedangkan orang yanmg tidak beriman dan bertauhid, dia akan kekal selamanya (dalam neraka) meskipun dosanya dari segi perbuatan hanya sedikit.( Terjemahan Tazkiyatun Nafs, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darus Sunnah ).

Mengenai taubat dan istigfar, Ibnu Qaiyim al-Zaujiyah rahimahullah berkata bahwa istigfar ada dua macam, yaitu istigfar ( meminta ampun) yang berdiri sendiri seperti perkataan Nabi Nuh alaihis-sallam atau perkataan Nabi Shalih kepada kaumnya sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala :

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. al-Baqarah : 199 ).

Sedangkan istigfar yang dikaitkan dengan taubat, sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala :

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” (QS. Huud : 3).

Allah tidak akan mengadzab orang yang meminta ampunan. Sedangkan orang yang masih tetap berbuat dosa, namun dia juga meminta ampun kepada Allah, maka hal ini tidak bisa disebut istigfar yang murni. Karena itu, istigfarnya tidak mampu mencegah adzab.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah bertaubat dari sebagian dosa tanpa bertaubat dari sebagian lainnya, sama seperti melaksanakan sebagian kebaikan yang diperintahkan tanpa melaksanakan yang lainnya. Sesungguhnya orang yang memiliki dosa lalu bertaubat dari sebagiannya tanpa pada sebagian dosa yang lainnya, maka taubatnya itu hanya menghapus dosa yang ia mohonkan. Sedangkan apa yang tidak ia mohonkan ampunannya maka hukumnya sama dengan orang yang tidak bertaubat. ( Terjemahan Tazkiyatun Nafs, Mensucikan Jiwa dan Menjernihkan Hati Dengan Akhlak Yang Mulia, Darus Sunah, hal.79 )

Syarat-Syarat Taubat

Syaikh DR. Akhmad Farid menyebutkan tentang syarat-syarat taubat bila berhubungan dengan hak Allah, syarat taubat ada tiga, yaitu:

1. Menyesal atas pelanggaran dan dosa yang telah diperbuat.

2. Meninggalkan perbuatan dosa teresbut .

3. Bertekad untuk tidak mengulangi.

Menyesal adalah syarat utama taubat dan tanpa penyelesalan taubat tidak akan diterima. Sebab orang yamng tidak menyesali perbuatan buruknya berarti telah rela terhadapnya dan bersikeras mempertahankannya.

Sedangkan yang berkaitan dengan syarat kedua yaitu meninggalkan perbuatan dosa yang telah dikerjakan, m aka mustahil seseorang bertaubat tetapi juga masih mengerjakan perbuatan dosa.

Mengenai syarat ketiga ialah bertekad untuk tidak mengulangi kembali.Pada dasarnya ini bertumpu pada keikhlasan dan ketulusan tekad tersebut.

Namun apabila dosanya berhubungan dengan hak anak Adam ( sesama manusia ), orang yang bertaubat harus memperbaiki apa yang dirusaknya dan meminta kerelaan orang yang disalahi haknya. Karena Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح البخاري ٢٢٦٩: حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ إِنَّمَا سُمِّيَ الْمَقْبُرِيَّ لِأَنَّهُ كَانَ نَزَلَ نَاحِيَةَ الْمَقَابِرِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَسَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ هُوَ مَوْلَى بَنِي لَيْثٍ وَهُوَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ وَاسْمُ أَبِي سَعِيدٍ كَيْسَانُ

Shahih Bukhari 2269: Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dza'bi telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Maqburiy dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari qiyamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya".

(Lihat Manajemen Qalbu Ulama Salaf ( terjemahan ) Syaikh DR. Ahmad Farid, Elba, hal. 219. )

Taubat Nasuha

Allah subahanahu wata’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu'min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." ( QS. At-Tahrim : 8 )

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح مسلم ٤٩٥٤: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُوسَى

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

Shahih Muslim 4954: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Amru bin Murrah dia berkata; aku mendengar Abu 'Ubaidah bercerita dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orng yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat."

Taubat nasuha adalah taubat yang bersih dari segala macam kecurangan, kekurangan dan kerusakan.

Menurut Hasan al-Basri rahimahullah, taubat nasuha ialah seorang hamba menyesali apa yangb telah terjadi dan bertekad untuk tidak mengulangi.

Sementara menurut Al-Kalbi, taub at nasuha ialah memohon ampun dengan lisan, menyesal dengan hati dan menahan diri dengan badan.

Sedangkan menurut Said bin Musayyab rahimahullah taubat nasuha artinya “ kalian menasihati diri sendiri.

Ibnu Qaiyim al- Jauziyah rahimahullah mengatakan, taubat nasuha mencakup 3 hal :

Pertama : Meliputi segala m acam dosa tanpa kecuali.

Kedua : Membulatkan tekad dan kejujuran secara total untuk bertaubat. Sehingga tidak ada sedikitpun kebimbingan,penangguhan maupun penantian. Ia harus membulatkan kemauan dan tekadnya untuk bertaubat dan segera melaksanakannya.

Ketiga : Membersihkan taubat dari segala macam kotoran dan penyakit yang bisa merusak kemurniannya dan melakukan semata-mata karena takut kepada Allah

(Lihat Syaikh DR. Ahmad Farid, Terjemahan Manajemen Qalbu Ulama Salaf)

Keutamaan Orang Yang Bertaubat

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “ Orang yang bertaubat dari dosa atau dari kekufuran sangat boleh jadi lebih utama daripada orang-oranbg yang tidak pernah terjerumus pada kekafiran dan dosa lalu tidak mau bertaubat.

Telah dijelaskan oleh Allagh Ta’ala dalam Kitab-Nya tentang pertaubatan BNabi Adam, Nabi Nuh dan orang-orang setelahnya hingga penutup para Nabi yaitu Muhammad shalallahu’alaihi wasallam. Allah berfirman :

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا -

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. “ ( QS. An-Nashr: 1-3 )

Dalam Ash-Shahihain dari Aisyah radhyallahu anha bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dalam ruku,dan sujudnya banyak mengucap :” Maha Suci Engkau ya Allah, Rabb kami, dan segal;a puji bagi-Mu. Ya Allah ampunilah aku “ yang beliau pahami dari firman Allah :

لَقَد تَّابَ الله عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,”( QS. At-Taubah “ 117 )

( Lihat Terjemahan Tazkiyatun Nafs, Darus Sunnah, hal.159-160 )

Pembagian Manusia Berkaitan Dengan Taubat

Ibnu Qudamah rahimahullah membagi kedudukan manusia dalam kaitannya dengan taubat menjadi lima golongan :

1. Orang bertaubat yang tetap bertahan pada taubatnya hingga akhir hayatnya, menyadari tindakannya yang menyimpang, tidak punya keinginan untuk kembali melakukan dosa, kecuali hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang memang manusia tidak bisa melepaskan diri darinya. Inilah yang disebut istiqamah dalam taubat. Pelakunya adalah orang yanmg berada di b arisan depan dalam kebaikan. Taubat ini disebut taubatan nashuha,sedangkan jiwa ini disebut an-nafsul –muthma’innah.

2.Orang bertaubat yang meniti jalan istiqamah pada induk-induk ketaatan dan kedurhakaan yang besar. Hanya saja dia tidak bisa melepaskan diri dari dosa yang dilakukannya. Memang tidak terlalu disengaja. Hanya saja dia tidak mempunyai keteguhan hati untuk mewaspadai sebab-sebabnya. Ini termasuk nafsul-lawwamah.

Mereka yang termasuk dalam golongan kedua ini mendapat janji yang baik dari Allah, sebagaimana firman-Nya :

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“ (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. “ (QS. An-Najm : 32 )

3.Orang yang bertaubat dan bertahan pada istiqamah untuk beberapa saat, lalu nafsunya dapat menguasainya untuk mengerjakan sebagian dosa. Maka diapun melakukannya karena tak kuasa menghadang tekanan nafsu. Sekalipun begiktu dia tetap rajin melakukan ketaatan dan juga meninggalkan beberapa dosa yang memang sanggup diktinggalkannya, sekalipun ada bisikan nafsu. Sekali dua kali dia dibisiki nafsu. Lalu setelah Allah memberinya taufik, diapun penghentikannya dan merasa menyesal, sereta ingin bertaubat dari perbuatannya itu. Jiwa semacam ini disebut al-mas’ulah. Pelakunya telah difirmankan Allah :

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُواْ بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُواْ عَمَلاً صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. “ ( QS. At-Taubah : 102 ).

4. Orang bertaubat dan istiqamah barang sesaat, lalu kembali melakukan dosa dan tenggelam di dalmnya, tanpa berhasrat untuk bertaubat dan tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Ini termasuk orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa. Jiwa ini dinamakan al-ammarah bis-su’i. Sekalipun begitu dia m asih takut terhadap su’ul khatimah . Jika dia mati dan tetap dalam tauhid, maka dia masih diharapkan untuk kelujar dari neraka, sekalipun setelah sekian lama.

( Wallahu ta’ala ‘alam )

Samarinda, diselesaikan ba’da ashar, Senin, 2 Muharram 1433 H / 27 Nopember 2011

Sumber bacaan :

1. Al-Quran (software Salafi DB )

2. Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam ( Sofware Lidwa Pusaka )

3. Minhajul Qashidin, Jalan Orang-Orang Yang Mendapatkan Petunjuk (Terjemahan ), Ibnu Qudamah

4. Tazkiuyatun Nafs, Mensucikan Jiwa dan Menjernihkan Hati dengan Akhlah yang Mulia ( Terjemahan), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

5. Madarijus Salikin, Pendakian Menuju Allah ( Terjemahan ), Ibnu QaiyimAl-Jauziyah

6. Ihya’Ulumudin ( Terjemahan ) Imam al-Ghazali

7. Al-Kaba’ir, Dosa-Dosa Yang Membinasakan ( Terjemahan ), Imam Adz-Dzahabi.

8. Manajemen Qalbu Ulama Salaf ( Terjemahan ), Syaikh DR. Ahmad Farid

( by : Musni Japrie )