P e n d a h u l u a n
Sudah bukan hal yang
baru di masyarakat seantero jagat Nusantara ini, adat dan tradisi budaya
melekat pada setiap diri invidu yang diaplikasikan dalam berbentuk
kesehariannya, tidak saja dalam acara seremonial tetapi juga dalam sikap hidup
mereka. Dimana kebanyakan semua itu dilakukan baik secara sadar atau tanpa
sadar sebagai perwujudan pemberian penghormatan terhadap adat istiadat, tradisi
dan budaya yang diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi. Bahkan
dewasa ini semakin digalakkan dengan dukungan dan peran aktif Pemerintah dengan
dalih melestarikan budaya bangsa serta motif ekonomi sebagai obyek wisata.
Adat istiadat dan budaya yang dianggap sebagai tradisi yang telah mendarah daging di dalam kehidupan sebagian masyarakat negeri ini menurut sejarah sebagai warisan baik dari kultur nenek moyang manusia primitif dengan kepercayaannya pada animisme dan dinamisme, kemudian dari agama para leluhur sebelum datangnya Islam yang membawa agama tauhid.
Berbagai tradisi yang berasal dari masyarakat jahiliyah dari generasi kegenerasi terus dipertahankan malah ditumbuh kembangkan dengan dalih melestarikan adat budaya bangsa, dan agar nampak seperti tradisi islam, maka diberi hiasan dan label islam seperti dimasukkannya doa-doa bercirikan islam. Sehingga tanpa disadari oleh masyarakat awam bahwa tradisi dari adat istiadat dan budaya yang selama ini dilakoni mereka merupakan sesuatu yang tidak sesuai dan bertentangan dengan syari’at islam. Karena didalamnya kalau tidak mengandung kesyirikan, pasti ia mengandung kebid’ah –an.
Tradisi adat istiadat dan budaya yang mengandung kesyirikan dan bid’ah yang dilakukan kebanyakan masyarakat sampai saat sekarang ini tidak saja dilakukan secara tertutup dan tersembunyi oleh orang perorang, tetapi malah dilakukan secara demonstratif dan terbuka dengan cara berjama’ah serta dijadikan agenda khusus oleh pemerindah daerah dengan dalih untuk menarik kunjungan wisata, namun ternyata apa yang diharapkan samasekali tidak sebagaimana mestinya.
Adat istiadat dan budaya yang dianggap sebagai tradisi yang telah mendarah daging di dalam kehidupan sebagian masyarakat negeri ini menurut sejarah sebagai warisan baik dari kultur nenek moyang manusia primitif dengan kepercayaannya pada animisme dan dinamisme, kemudian dari agama para leluhur sebelum datangnya Islam yang membawa agama tauhid.
Berbagai tradisi yang berasal dari masyarakat jahiliyah dari generasi kegenerasi terus dipertahankan malah ditumbuh kembangkan dengan dalih melestarikan adat budaya bangsa, dan agar nampak seperti tradisi islam, maka diberi hiasan dan label islam seperti dimasukkannya doa-doa bercirikan islam. Sehingga tanpa disadari oleh masyarakat awam bahwa tradisi dari adat istiadat dan budaya yang selama ini dilakoni mereka merupakan sesuatu yang tidak sesuai dan bertentangan dengan syari’at islam. Karena didalamnya kalau tidak mengandung kesyirikan, pasti ia mengandung kebid’ah –an.
Tradisi adat istiadat dan budaya yang mengandung kesyirikan dan bid’ah yang dilakukan kebanyakan masyarakat sampai saat sekarang ini tidak saja dilakukan secara tertutup dan tersembunyi oleh orang perorang, tetapi malah dilakukan secara demonstratif dan terbuka dengan cara berjama’ah serta dijadikan agenda khusus oleh pemerindah daerah dengan dalih untuk menarik kunjungan wisata, namun ternyata apa yang diharapkan samasekali tidak sebagaimana mestinya.
Berbagai Ragam Tradisi Warisan Budaya Yang Tidak Sesuai Syari’at Islam Yang Berkembang di Masyarakat.
Tidak hanya seperti yang sering kita lihat tayangan di layar kaca yang menampilkan berbagai aktivitas tradisi adat istiadat dan budaya yang berkembang di seluruh pelosok tanah air, malah secara langsung kadang-kadang kita ikut didalam melakukan tradisi adat istiadat dan budaya dengan mencontoh sebagaimana yang dilakukan oleh para orang tua pendahulu kita.
Sekiranya tradisi adat istiadat dan budaya tersebut tidak ada kaitannya dengan keyakinan kaum muslimin yang notabene sebagai umat terbesar di negeri ini, maka tidaklah menjadi persoalan .Namun karena tradisi adat istiadat dan budaya yang mewarnai kehidupan banyak orang tersebut lebih menonjolkan segi-segi ritual dan perwujudan dari pengakuan adanya suatu kekuatan yang diakui keberadaannya selain Allah, maka masalahnya menjadi lain dan serius untuk diperhatikan. Sebab didalam tradisi adat istiadat dan budaya tersebut menyentuh hal-hal yang bersifat sangat sensitif yaitu adanya kandungan syirik dan bid’ah di dalamnya yang sangat terlarang dalam islam.
Banyak contoh tradisi dimasyarakat islam di negeri ini disemua tempat sebagai adat istiadat dan budaya warisan yang terus dilestarikan keberadaannya meskipun di dalamnya penuh diliputi ritual-ritual syirik berupa penyembahan kepada sesuatu selain Allah Yang Maha Pencipta. Tradisi budaya syirik tersebut antara lain :
1. Tradisi Pesta
Sedekah laut
Pesta laut banyak
diselenggarakan oleh kalangan masyarakat nelayan yang berdomisili di daerah
pesisir/pantai dan biasanya dilakukan setiap setahun sekali dengan ritual
melarungkan atau menghanyutkan sesajen ( sesajian ) yang terdiri dari berbagai
makanan dan hewan yang telah disembelih (kerbau, kambing atau ayam ). Sesajen
yang disiapkan dalam sebuah perahu kecil yang sengaja disiapkan untuk itu
diarak beramai-ramai oleh penduduk ketengah laut dengan menggunakan
perahu/kapal layaknya karnaval perahu /kapal hias, sesampai ditengah laut
sesajen dilarung/dihanyutkan. Namun sebelumnya seorang tokoh kampung terlebih
dahulu membacakan doa-doa secara islami yang bercampur dengan mantera-mantera.
Pesta/sedekah laut
tersebut dimaksudkan untuk memberikan sesembahan kepada makhluk halus/jin
yang mereka sebut sebagai dewa penguasa laut sebagai ucapan rasa syukur
dan terimakasih atas rezeki yang diberikan kepada para nelayan berupa hasil
tangkapan. Selain itu juga dimaksudkan untuk meredam kemarahan penguasa laut
yang dapat membahayakan keselamatan para nelayan selama melaut menangkap ikan.
Memberikan sesajen juga sebagai persembahan kepada penguasa laut agar hasil
tangkapan para nelayan selama setahun kedepan akan meningkat.
Pesta atau sedekah laut berasal dari kepercayaan pemujaan dewi laut serta dewi perikanan, dimana pemujaan tersebut agar nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang banyak., oleh penduduk pesisir yang terus dilestarikan dari generasi kegenerasi berikutnya meskipun mereka menganut Islam.
Pesta atau sedekah laut berasal dari kepercayaan pemujaan dewi laut serta dewi perikanan, dimana pemujaan tersebut agar nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang banyak., oleh penduduk pesisir yang terus dilestarikan dari generasi kegenerasi berikutnya meskipun mereka menganut Islam.
2. Tradisi Pesta Sedekah Bumi

Dalam puncaknya acara
ritual sedekah bumi di akhiri dengan melantunkan doa bersama-sama oleh
masyarakat setempat dengan dipimpin oleh sesepuh adat. Doa dalam sedekah bumi
tersebut umumnya dipimpin oleh sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa
mamimpin jalannya ritual tersebut. Ada yang sangat menarik dalam lantunan doa
yang ada dilanjutkan dalam ritual tersebut. Yang menarik dalam lantunan doa
tersebut adalah kolaborasi antara lantunan kalimat kalimat Jawa dan dipadukan
dengan doa yang bernuansa Islami.
Ritual sedekah bumi yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan.
Upacara ritual sedekah bumi bersumber dari kepercayaan nenek moyang pada masa hindu dan budha yang mempercayai akan dewi padi yang dipuja pada musim-musim menanam padi, panen dan menyimpan padi dalam lumbung.
Ritual sedekah bumi yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan.
Upacara ritual sedekah bumi bersumber dari kepercayaan nenek moyang pada masa hindu dan budha yang mempercayai akan dewi padi yang dipuja pada musim-musim menanam padi, panen dan menyimpan padi dalam lumbung.
3.Tradisi Tumbal ( Mengorbankan ternak hewan sembelihan )

Pemberian tumbal yang dilakukan antara lain :
a.Tumbal hewan ternak untuk keperluan pembangunan proyek-proyek besar, seperti jembabatan, pelabuhan laut, pelabuhan udara, gedung-gedung, stadion, menara-menara .Hewan ternak yang dikorbankan sebagai tumbal dapat berupa kerbau, sapi atau kambing yang disembelih yang kepalanya ditanamkan dalam lubang pada saat pemancangan tiang utama yang tentunya dilakukan dengan upacara adat/ritual tertentu. Selanjutnya diadakan selamatan dengan membacakan doa secara islami dengan suguhan beruapa makanan dengan lauk pauk utamanya dari daging hewan tumbal.
2.Tumbal untuk kawah gunung berapi. Dimana hewan yang dijadikan tumbal secara hidup-hidup dilemparkan kedalam kawah bersama-sama dengan sesajen lainnya berupa makanan dan buah-buahan sertahasil bumi lainnya, yang tentunya tidak ketinggalan pula nasi tumpeng.
4.Tradisi Pesta Adat
Tahunan
Pada setiap masyarakat suku dan daerah memiliki pesta adat
tahunan yang rutin oleh masyarakatnya. Belakangan tradisi pesta adat tahunan
tersebut dikaitkan penyelenggaraannya dengan peringatan dengan hari ulang
tahun Kabupaten atau kota. Sebagai contoh di beberapa kabupaten di Kalimantan
Timur seperti di Kabupaten Kutai Kertanegara, Kutai Timur, Kabupaten Berau dan
ditempat lain, setiap penyelenggaraan peringatan hari jadi kabupaten diisi
dengan kegiatan utamanya pesta adat, dimana dalam pesta adat tersebut pasti diselenggarakan
upacara yang bersifat magis dan sakral serta sangat kental dengan aroma
peninggalan zaman nenek moyang yang mempunyai kepercayaan animisme dan
dinamisme serta tidak ketinggalan pula pengaruh agama hindu dan budha. Dalam
ritualnya tidak pernah ketinggalan yang namanya memberikan sesajen dan bepalas
benua, juga tarian-tarian belian memanggil roh-roh penguasa bumi. Seluruh
tokoh-tokoh atau para pemuka adat dari suku-suku di pedalaman aktif terlibat
dalam prosesi dan ritual penyembahan kepada yang mereka namakan roh-roh
ghaib/halus penguasa alam semesta agar para penduduk negeri dapat diberikan
perlindungan darei segala bentuk bencana sebagai akibat kemarahan yang
ditimbulkan oleh roh-roh jahat.

5.Tradisi Tepung Tawar
& Menabur Beras Kuning
Dibanyak tempat masyarakat mengenal pula yang namanya tradisi
budaya tepung tawar dan menabur beras kuning, dan konon tepung tawar dan
menabur beras kuning ini berasal dari kebudayaan nenek moyang dizamannya
animisme dan dinamisme. Tepung tawar ada yang dalam bentuk menaburkan beras
kuning dan ada pula dengan cara memercikkan air yang diberi wewangian. Dengan
tepung tawar tersebut dimaksudkan agar diberikan keselamatan dan kesehatan
serta juga dimaksudkan mengembalikan semangat kepada seseorang .Upacara ritual
pemberian tepung tawar ini dilakukan hampir pada setiap kesempatan adanya
acara-acara seperti menyambut kedatangan tamu yang dihormati, menyambut
orang-orang yang baru pulang haji, menyambut pengantin pria. Tepung tawar juga
tidak ketinggalan dilakukan pada saat memberikan nama kepada bayi. Tepung tawar
ini disertai dengan pembacaan shalawat oleh orang bertugas menaburkan bunga
atau memercikan air yang diberi wewangian.
Tradisi tepung tawar ini asal muasalnya bersumber dari kepercayaan pada dewi padi.

Tradisi tepung tawar ini asal muasalnya bersumber dari kepercayaan pada dewi padi.
6. Tradisi Menyediakan Sesajen Untuk Persembahan Kepada makhluk halus yang ditakuti.

Dibeberapa tempat di Kalimantan Timur penduduknya mempercayai adanya makhluk-makhluk halus yang dianggap dapat menimbulkan gangguan,sehingga untuk menghindarkan gangguan makhluk halus tersebut diberikanlah sesajen yang disebut piduduk. Setiap menyelenggarakan hajatan apa saja tidak pernah tertinggal yang namanya menyediakan piduduk, lagi-lagi dalam acara perkawinan. Kebanyakan mereka menganggap bahwa tanpa disediakan piduduk dikhawatirkan makhluk halus akan mengganggu acara yang sedang berlangsung, sehingga akan timbul sesuatu yang tidak diharapkan.
Selain dari itu di kalangan masyarakat asli yang berdiam di Pulau Kalimantan terdapat tradisi untuk memberi makan peliharaan leluhur nya yang diyakini sebagai seekor buaya siluman. Pemberian makan peliharaan tersebut berupa nasi ketan yang disajikan diatas piring, diatasnya diberi sebutir telur dan juga sesisir pisang. Sajian tersebut dibuang diair yang mengalir.Ritual memberi makan peliharaan tersebut lazimnya dilakukan setiap akan diadakannya hajatan seperti acara perkawinan, kalau peliharaan tersebut tidak diberi makan, maka ia akan mengganggu dan menimbulkan musibah.
7.Mendatangai
Tempat-Tempat/Kuburan Yang
Dikramatkan dan Meminta Pertolongan
Mendatangi
tempat-tempat atau kuburan yang dikramatkan yang banyak dilakukan oleh sebagian
orang sekarang ini termasuk tradisi yang diwarisi dari leluhur. Dimana sebelum
Islam masuk di Nusantara , masyarakatnya sangat menghormati dan
mengagung-agungkan tempat-tempat yang dianggap kramat, termasuk kuburan
orang-orang yang dianggap sakti pada zamannya. Ditempat-tempat kramat atau
dikubur-kubur yang dikramatkan tersebut banyak orang datang membawa berbagai
sesajen seperti bunga-bungan kemudian
mereka meminta pertolongan/menyampaikan hajatnya . Banyak orang beranggapan
bahwa tempat-tempat kramat yang ditunggui oleh jin setan, lelembut dan roh-roh
halus atau kuburan orang sakti dapat
memberikan pertolongan dan
memberikan perlindungan dari berbagai keburukan.
Tradisi syirik seperti
ini terus berlanjut sampai dewasa ini namun yang didatangi adalah kuburan
orang-orang shaleh atau para wali yang dikramatkan orang.
8.Tradisi
Penghormatan/Pengagungan Terhadap Bunga-bungaan.
Status bunga-bungaan ditengah-tengah sebagian besar masyarakat
mendapatkan tempat secara khusus, sehingga dalam hal-hal yang bersifat sakral
dan ritual bunga-bungaan tidak pernah dilupakan. Setiap upacara hajatan seperti
siraman atau mandi-mandi bagi calon pengantin dan upacara tingkepan atau
mandi-mandi bagi wanita yang hamil, memandikan jenazah, hiasan usungan/tandu
jenazah, menaburkan bunga pada saat ziarah di kubur. Bunga juga dijadikan untuk
sesajen seperti meletakkannya dipersimpangan-persimpangan jalan yang dianggap
sering terjadinya kecelakaan. Bunga juga dianggap dapat memberikan perlindungan
dari kecelakaan sebagaimana yang diyakini oleh para banyak kalangan sopir dan
pemilik mobil. Bunga juga dijadikan sarana nazar dengan
menempatkan/menggantungkannya di mimbar-mimbar masjid tempat khatib
berkhotbah.Bunga-bungaan dijdikan pula sebagai sarana untuk mengobati
orang-orang yang sakit yang datang kedukun, bunga-bungaan juga dijadikan
sebagai sarana untuk keperluan mantera-mantera mencari jodoh sampai menjadi
alat untuk menyantetJenis- jenis bunga-bungaan yang berbau harum dianggap
mempunyai nilai magis antara lain bunga kantil (cempaka ),kenanga, melati,
mawar juga yang lainnya, sehingga bunga-bungaan tersebut bernilai tinggi
dibandingkan dengan yang lainnya.Bunga-bungaan memang memiliki nilai
estitika/keindahan dimata manusia dan dijadikan sebagai pengharum sehingga
dijadikan sebagai hiasan untuk memperindah suasana dan ruangan, tetapi oleh
sebagian kalangan kedudukan bunga mempunyai nilai magis dan sakral, sehingga
dijadikan perantara dan persembahan kepada makhluk halus berupa jin yang
ditakuti.

9.Tradisi Penghormatan atas Benda-benda Pusaka dan Batu Cincin
Banyak diantara
masyarakat yang mengaku sebagai seorang yang muslim, sangat memberikan
penghormatan yang tingi dan malah memuja-muja benda-benda pusaka peninggalan
para leluhurnya maupun peninggalan raja-raja zaman dahulu baik berupa senjata
seperti keris dan tombak, maupun benda-benda lainnya seperti gamelan, gong,
kereta dan bahkan kerbau yang dianggap turunan dari kerbau dari zaman kerajaan
dianggap kramat dan bertuah.Pada waktu-waktu tertentu tidak saja orang-orang
dari kraton yang mengadakan upacara membersihkan dan memandikan benda-benda
pusaka kraton, namun perorangan yang memiliki dan menyimpan benda-benda pusaka
seperti keris dan tombak juga mengadakan ritual memandikan dan membersihkan
sebagai bentuk wujud perhatian dan pemeliharaana atas benda pusaka tersebut.
Masyarakat berkeyakinan apabila benda-benda pusaka tersebut tidak dimandikan
dan dibersihkan rohnya akan menimbulkan gangguan kepada pemilik dan
keluarganya.Selain keyakinan akan benda-benda pusaka, kebanyakan masyarakat
juga memiliki keyakinan bahwa cincin yang bermatakan batu-batu khusus mempunyai
khasiatdan juga memilki ruh yang dapat mendatangkan kebaikan dan manfaat serta
juga dapat mendatangkan kemudharatan, cincin dengan batu permata tertentu
diyakini dapat dijadikan penyembuh berbagai macam penyakit. Karenanya tidaklah
mengherankan mereka mereka yang mempunyai kepercayaan terhadap cincin yang
bermatakan batu tidak sungkan mengeluarkan uang yang besar untuk membelinya.
Tetapi tentunya berbeda dengan batu permata sebagai hiasan yang memang memiliki
nilai harga yang tinggi seperti intan, jamrud, rubby dan yang lain-lainnya yang
dijual ditoko-toko permata.
10. Tradisi Memperingati Hari Kematian.
Animisme dan dinamisme
kepercayaan jahiliyah yang dianut nenek moyang masyarakat dinegeri ini sebelum
datangnya Islam, meyakini bahwa bahwa arwah yang telah dicabut dari jasadnya
akan gentayangan disekitar rumah selama tujuh hari (7), kemudian setelahnya
akan meninggalkan tempat tersebut akan kembali pada hari ke empat puluh hari,
hari keseratus setelah kematian dan pada hari keseribunya setelah kematian.
Atau mereka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana
dia meninggal ia akan kembali ketempat tersebut, sehingga masyarakat pada saat
itu ketakutan akan gangguan arwah tersebut dan membacakan mantra mantra sesuai
keyakinan mereka.Setelah Islam mulai masuk dibawa oleh para Ulama yang
berdagang ketanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan
yang MENYELISIHI SYARI'AT ISLAM, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan
PERLAHAN, dengan cara memasukan BACAAN BACAAN berupa kalimat kalimat THOYYIBAH
sebagai pengganti mantra mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam
dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit demi sedikit dan meninggalkan
acara tersebut menuju ajaran Islam yang murni. AKAN TETAPI SEBELUM TUJUAN AKHIR
INI TERWUJUD, dan acara pembacaan kalimat kalimat thoyyibah ini sudah
menggantikan bacaan mantra mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, PARA
ULAMA YANG BERTUJUAN BAIK INI MENINGGAL DUNIA, sehingga datanglah generasi
selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi AWAL yang telah
mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan.
Jadilah peringatan kematian itu menjadi tahlilan.
11.Tradisi Nasi
Tumpeng
Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan
membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Meskipun
demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah
tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa,
yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba
masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para
hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan
dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut
dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam
dewa-dewi.
Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh
Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.
Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh
Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.
Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan.
12. Tradisi
Siraman/mandi Untuk Calon Pengantin/Wanita Hamil
Siraman menurut sebutan dalam bahasa jawanya dan mandi-mandi sebutan
dalam bahasa banjar, merupakan upacara mandi bagi calon mempelai wanita dan
pria sebelum dilakukannya hari pernikahan, dimana masing-masingh calon
pengantin dimandikan dengan air bunga-bungaan oleh para keluarga yang telah
berfumur dan menguasai tata cara ritualnya.Upacara ritual siraman atau
mandi-mandi bagi calon pengantin ini dimaksudkan untuk membersihkan jiwa dan
raga dari segala bentuk kekotoran, agar begitu memasuki perkawinan dalam
keadaan suci dan bersih.Di dalam tradisi suku Banjar upacara ritual mandi-mandi
juga dilakukan terhadap wanita yang tengah hamil dengan usia kandungan 6 -7
bln. Dikalangan masyarakat Jawa ritual seperti ini disebut dengan tingkepan.
Ritual ini dimaksudkan agar janin yang dikandung mendapatkan mandperlindungan
dan dapat lahir dengan selamat. Dalam ritual siraman atau mandi-mandi ini
tentunya tidak pernah dilupakan menyiapkan sesajen bagi para makhluk
halus agar sipengantin atau perempuan yang hamil yang menjalani prosesi
mandi-mandi tidak mendapatkan gangguan sehingga selamat sampai melahirkan.

13.Tradisi mendatangi
dukun

Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama dikenal bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun mempunyai pengetahuan tentang ilmu ghaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya.Yang diistilahkan dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi dengan berita dari langit. Maka, dukun adalah orang-orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib, sesuatu yang tidak tersingkap dalam pengetahuan banyak manusia.Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis.Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwarisi oleh anak-anak bangsa, hingga saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern.

Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama dikenal bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun mempunyai pengetahuan tentang ilmu ghaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya.Yang diistilahkan dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi dengan berita dari langit. Maka, dukun adalah orang-orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib, sesuatu yang tidak tersingkap dalam pengetahuan banyak manusia.Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis.Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwarisi oleh anak-anak bangsa, hingga saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern.
14. Tradisi Penggunaan Jimat Penangkal.

Jimat merupakan tradisi yang diwarisi dari zaman jahiliyah yang di Indonesia populer dengan sebutan animisme dan dinamisme.Benda apapun yang digunakan dan diyakini mempunyai kemampuan untuk memberikan kemaslahatan dan melindungi dari kemudharatan sekalipun itu ayat-ayat al-Qur’an namanya tetap jimat.Keyakinan para nenek moyang dan para leluhur terdahulu bahwa sesuatu benda yang dijadikan jimat mengandung kekuatan magis sehingga mereka menggantungkan kemampuan benda yang dijadikan jimat tersebut untuk memberikan kemanfaatan pada dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
Di Zaman modern ini penggunaan gelang dan kalung sebagai jimat telah dimodifikasi menjadi gelang dan kalung kesehatan yang dijual di toko-toko dan mall dengan harga yang tingi. Gelang dan kalung tersebut dikampanyekan mengandung bahan yang memiliki kekuatan/energi yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Namun sangat disayangkan gelang dan kalung kesehatan tersebut bukan bersumber dari hasil penelitian dari akhli kedokteran. Sehingga gelang dan kalung tersebut termasuk dalam katagori jimat.
15. Tradisi Meyakini
Hari-Hari dan Bulan-Bulan Tertentu Sebagai Hari/Bulan Yang Tidak
Baik Untuk Melangsungkan Pernikahan Dan Hajat-hajat Lainnya

Pada sebagian kalangan masyarakat meyakini bahwa ada hari dan bulan tertentu yang sial dan nahas, sehingga hari dan bulan tersebut harus dihindari untuk melangsungkan berbagai kegiatan terutama untuk keperluan melangsungkan hajat pernikahan. Mereka pantang untuk memilih hari dan bulan yang diyakini sebagai hari dan bulan yang sial, karena apabila pernikahan dilakukan pada hari dan bulan sial tersebut kelak akan berakibatfatal terhadap rumah tangga tersebut, kemungkinan terhadinya perceraian sangat besar. Begitu juga apabila memulai suatu pekerjaan seperti membangun rumah, perniagan dan lain-lainnya akan tidak mendapatkan keberuntungan.
Melakukan perjalanan jauh pada hari-hari yang dianggap sial dan nahas juga dihindari. Hari-hari yang dianggap sial dan nahas antara lain hari kelahiran, hari selasa dan hari rabu. Sedangkan bulan yang dianggap bulan yang tidak baik untuk pernikahan antara lain bulan Syawal, Muharram dan Safar menurut penanggalan tahun Hijriyah.
Hari-hari dan bulan-bulan yang sial dan nahas itu yang diyakini oleh kebanyakan orang-orang dari masyarakat suku jawa didasarkan kepada ramalan buku primbon peninggalan nenek moyang yang terus dilestarikan.

Pada sebagian kalangan masyarakat meyakini bahwa ada hari dan bulan tertentu yang sial dan nahas, sehingga hari dan bulan tersebut harus dihindari untuk melangsungkan berbagai kegiatan terutama untuk keperluan melangsungkan hajat pernikahan. Mereka pantang untuk memilih hari dan bulan yang diyakini sebagai hari dan bulan yang sial, karena apabila pernikahan dilakukan pada hari dan bulan sial tersebut kelak akan berakibatfatal terhadap rumah tangga tersebut, kemungkinan terhadinya perceraian sangat besar. Begitu juga apabila memulai suatu pekerjaan seperti membangun rumah, perniagan dan lain-lainnya akan tidak mendapatkan keberuntungan.
Melakukan perjalanan jauh pada hari-hari yang dianggap sial dan nahas juga dihindari. Hari-hari yang dianggap sial dan nahas antara lain hari kelahiran, hari selasa dan hari rabu. Sedangkan bulan yang dianggap bulan yang tidak baik untuk pernikahan antara lain bulan Syawal, Muharram dan Safar menurut penanggalan tahun Hijriyah.
Hari-hari dan bulan-bulan yang sial dan nahas itu yang diyakini oleh kebanyakan orang-orang dari masyarakat suku jawa didasarkan kepada ramalan buku primbon peninggalan nenek moyang yang terus dilestarikan.
16. Tradisi Percaya Kepada Ramalan Primbon, Zodiak, Feng-Shui dan Shio

Ramalan-ramalan tersebut diatas pada umumnya membicarakan sesuatu hal yang ghaib tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Padahal tidak seorangpun yang mengetahui tentang hal yang ghaib kecuali Allah Yang Maha Mengetahui.
Percaya kepada ramalan-ramalan berarti mengakui bahwa ada sesuatu selain Allah yang mengetahui hal-hal yang ghaib, hal ini sama artinya mengakui bahwa Allah itu mempunyai sekutu-sekutu. Perbuatan ini merupakan perbuatan syirik.
17. Percaya Kepada
Sesuatu Yang Dapat Mendatangkan Kesialan ( Tatthayyur )
Sebagian masyarakat banyak yang mempercayai hal-hal yang seperti
ini, misalnya pada saat berjalan ditengah jalan menemui ular yang melintas di
jalan dari sebelah kiri sebagai tanda akan adanya kesialan atau datangnya
nahas, menabrak kucing hingga mati pada saat berkendaraan sebagai tanda akan
terjadinya kecelakaan bagi si pengendara, kejatuhan cicak di dalam rumah
sebagai bentuk kesialan .
Mempercayai adanya kesialan atau akan datangnya nahas dari tanda-tanda yang ditemui adalah bentuk dari perbuatan syirik. Karena kemaslahatan dan kemudharatan yang menimpa seseorang itu datangnya dari Allah Yang Maha Pencipta , bukan datang dari makhluk.

Mempercayai adanya kesialan atau akan datangnya nahas dari tanda-tanda yang ditemui adalah bentuk dari perbuatan syirik. Karena kemaslahatan dan kemudharatan yang menimpa seseorang itu datangnya dari Allah Yang Maha Pencipta , bukan datang dari makhluk.
Syirik Perbuatan Yang Tidak Diampuni
Syirik bukanlah hanya sekedar diartikan dengan seseorang menyembah berhala atau mengakui ada pencipta selain Allah. Meskipun menyembah berhala memang termasuk syirik. Namun kesyirikan sebenarnya lebih luas daripada itu. Yaitu yang berkaitan dengan masalah ibadah, jika ada satu ibadah dipalingkan kepada selain Allah, itu pun sudah termasuk syirik.
Syirik merupakan bahaya yang terbesar dan penyakit yang paling berbahaya. Syirik sebagai penyakit hati, karena sumber kesyirikan bermula dari keyakinan (i’tiqad) yang ada di dalam hati
Berbagai tradisi warisan budaya yang selama ini masih banyak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat yang mengaku dirinya sebagai muslim, ternyata mengandung kesyirikan yang nyata. Karena dalam tradisi tersebut mengandung banyak sekali perilaku keyakinan bahwa ada kekuatan atau kekuasaan lain selain Allah yang dapat memberikan kemaslahatan dan kemudharatan bagi manusia.Dilihat dari segi syari’at agama perbuatan yang mempercai adanya kekuatan lain yang dapat menimbulkan kemudharatan dan dapat memberian perlindungan kepada manusia sebagai makhluk adalah suatu perbuatan yang sama dengan mengadakan tandingan atas Allah Yang Maha Esa. Kepercayaan ini dinamakan syirik. Karena syirik itu tidak hanya sebatas menyembah atau sujud kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi segala macam perbuatan yang mengarah kepada pengakuan adanya kekuatan dan kekuasaan lain yang menyamai kekuasaan dan kekuatan Allah Subhanahu Wata’ala dikatagorikan dengan syirik.
Islam telah mensyari’atkan sebagai kewajiban yang mutlak tanpa bisa ditawar-tawar bagi setiap pemeluknya untuk mentauhidkan Allah Yang Maha Esa, baik tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah Subhanahu Wata’ala dengan segala bentuk ibadah yang lahir maupun bathin, dalam wujud ucapan maupun perbuatan, lalu menolak segala bentuk ibadah terhadap selain Allah Ta’ala bagaimanapun bentuk dan perwujudannya.
Islam juga mensyari’atkan kewajiban mutlak bagi pemeluknya untuk mentauhidkan Allah dalam tauhid Rububiyah, yaitu pengakuan sejati bahwa Allah adalah Rabb dari segala sesuatu dan raja dari segala sesuatu,pencipota dan pemelihara segala sesuatu, yang berhak mengatur segala sesuatu. Allah tidak memilki sekutu dalam kekuasaannya, tidak ada yang menolong-Nya, karena Dia Lemah ( tapi justeru Dia Maha Mampu), Tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya. Tidak ada yang bisa melawan-Nya, tidak ada yang bbisa menandingi-Nya. Tidak ada yang bisa nenentang-Nya
Syaikh Al- Allamah Hafizh bin Ahmad Al-Hikami dalam buku Pintar Aqidah Ahlussunnah, menyebutkan bahwa kebalikan/lawan dari tauhid Uluhiyah adalah syirik.Syirik sendiri ada dua macam,pertama adalah syirik b esar yang berlawanan secara totaliktas dengan tauhid uluhiyah. Yang kedua adalah syirik kecil yang bisa merusak kesempurnaan tauhid..Selanjutnya dijelaskan dalam buku tersebut bahwa syirik besar terjadi apabila seorang hamba menjadikan selain Allah sebagai sekutu-Nya yang ia menyamakannya dengan Rabbul ‘alamin, mencintainya seperti mencintai Allah, takut kepadanya seperti takutnya kepada Allah.minta perlindungan dan berdoa kepadanya . Takut dan berharap kepadanya, mencinta dan bertawakkal kepadanya, menaatinya dalam bermaksiat kepada Allah, atau mengikutinya meski berlawanan dengan keridhaan Allah.
Atas dasar itu maka bandingkanlah apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang yang mempunyai tradisi menyediakan sesajen bagi roh-roh halus, ghaib, jin dan syetan atau sesuatu yang dianggap dapat mendatangkan marabahaya/kemudharatan kalau tidak diberikan sesajen, dan akan terlindungi oleh mereka apabila disediakan piduduk. Sangatlah jelas dan nampak terang benderang tidak terselubung bahwa apa yang diperbuat itu suatu kesyirikan besar.
Sungguh manusia sudah berbuat keterlaluan dan melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya kecuali hanya sekedar mengikuti hawa nafsu yang didalamnya ada bisikan dan godaan syetan yang dilaknat, dan itu mereka lakukan berdasarkan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang yang masih jahiliyah, tidak kenal akan tauhid, atau mereka ikuti dari meniru perbuatan orang-orang non muslim.
Mengingat bahwa perbuatan tradisi kebanyakan orang banjar dengan menmyediakan piduduk sebagai bentuk persembahan kepada makhluk selain Allah, maka ini merupakan syirik yang digolongkan dalam syirik besar (akbar). Karena dalam syirik akbar ini seseorang hamba menjadikan selain Allah sebagai sekutu-Nya yang ia menymakannya dengan Rabbul ‘alamin, mencintainya seperti mencintai Allah, takut kepadanya seperti takutnya kepada Allah, minta perlindun gan dan berdoa kepadanya.
Mereka-mereka yang terbiasa dengan pekerjaan berbuat syirik kepada Allah dengan menyediakan piduduk, diancam oleh Allah berupa ancaman tidak akan diberikan ampunan, sebagaimana dengan melakukan perbuatan dosa lainnya selain syirik. Ini ditegaskan dalam al-Qur’an surah An- Nisaa ayat 48 :
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An Nisaa: 48 )
Terhadap orang-orang yang berbuat syirik disebut Allah sebagai orang yang tersesat sejauh-jauhnya sebagaima bunyiAl-Qur’an surah An-Nisaa’ ayat 116 :
إِنَّ اللّهَ لاَ
يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن
يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah
tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni
dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat
sejauh-jauhnya. (QS. An Nisaa: 116 )
Orang-orang yang
melakukan kesyirikan seperti mereka-mereka yang mempertahankan budaya tradisi
syirik dalam kehidupannya sehari-hari diancam oleh Allah
SubhanahuWata’ala dengan hukuman api neraka, sebagaimana yang tercantum dalam
al-Qur’an surah Al-Maa-idah ayat 72 :
- إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(QS. Al Maa’idah : 72 )
- إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(QS. Al Maa’idah : 72 )
Hadits Rasullullah
shallallahu’alaihi wa salam juga menyinggung hal yang sama sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Abdullah radhyallahu’anhu :
صحيح مسلم ١٢٤:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ
إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ وَقَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ
مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
قَالَ
سَأَلْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ
اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قَالَ قُلْتُ لَهُ
إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ
وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ
أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
Shahih Muslim
124: dari Abdullah dia berkata, "Aku bertanya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, "Dosa apakah yang paling besar di sisi
Allah?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Kamu
membuat tandingan bagi Allah (syirik), sedangkan Dialah yang
menciptakanmu." Aku berkata, "Sesungguhnya dosa demikian memang
besar. Kemudian apa lagi?" Beliau bersabda: "Kemudian kamu membunuh
anakmu karena khawatir dia makan bersamamu." Aku bertanya lagi, "Kemudian
apa lagi?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda: "Kamu
berzina dengan isteri tetanggamu."
Kepada mereka-mereka akhlus syirik yang meskipun tanpa sadar telah melakukan kesyirikan karena kejahilannya terhadap ilmu agama, maka tidak ada cara lain yang harus dipilih dan ditempuh kecuali melakukan taubat meminta ampun atas prilaku sesat yang telah dilakukan, karena taubat dapat menghapus segala dosa, karena Allah telah menjanjikannya dalam Al-Qur’an sesuai dengan yang tercantum dalam surah Az-Zumar ayat 53:
-قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa ] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Az-Zumar : 53 )
Menurut Allah Ta’ala setiap orang bertaubat niscaya mendapatkan ampunan termasuk mereka yang melakukan kesyirikan, asalkan mereka bertaubat sebelum nafasnya tinggal ditenggorokan ( sebelum ajal/kematian ) dan matahari terbit dari sebelah barat (kiamat). Apabila mati dalam keadaan syirik dan tidakbertaub at sebelumnya maka Allah tidak akan mengampuninya lagi.
P
e n u t u p
Sebagian besar masyarakat Muslim beranggapan
bahwa yang namanya menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu
selain-Nya yang lazim dinamakan syirik itu hanya terbatas pada
penyembahan kepada berhala-berhala atau patung-patung sebagaimana yang
dilakukan oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Rasullullah shallallahu’alahi wa
sallam . Pengertian syirik itu sesungguhnya sangatlah luas mencakup segala hal
yang berkaitan dengan keyakinan mendudukkan sesuatu selain Allah sejajar dengan
kedudukan Allah subhanahu wa ta’ala.
Perbuatan syirik yang banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat Muslim di negeri ini adalah warisan peninggalan nenek moyang yang hidup di zaman kepercayaan animisme, dinamisme dan hindu serta budha. Peninggalan dari nenek moyang tersebut hingga sekarang terus dilestarikan sebagai tradisi budaya meskipun budaya dan tradisi tersebut sangat bertentangan dengan aqidah Islam yang mentauhidkan Allah.
Masyarakat Muslim yang masih kental mempertahankan budaya tradisi warisan nenek moyang mereka menganggap bahwa melestarikan tradisi budaya bangsa perlu dilakukan karena dianggap mempunyai keariban local, mereka samasekali tidak mau mengindahkan larangan agama.
Masyarakat Muslim yang masih memegang teguh warisan budaya syirik tersebut seyogyanya segera bertaubat dan menuntut ilmu agama khususnya ilmu tauhid, ilmu tentang mengesakan Allah. Insya Allah akan selamatlah kelak dari siksa api neraka . Bersegeralah meninggalkan segala bentuk tradisi syirik yang samasekali tidak memberikan manfaat.
( Wallahu’alam )
Sumber :
1.Al-Qur’an dan Terjemahan, www.Salafi-Db
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.Lidwa-Pusaka.com
3.Parasit Akidah,A.D.El.Marzdedeq, Syaamil
4.Kitab Tauhid ( Terjemahan) , Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb ab at Tamimi, Darul Ilmi
5. Artikel www.yufidia.com
Selesai disusun, menjelang zhuhur, 25 Dzulqai’dah 1433H/11 Oktober 2012
( Musni Japrie )
Perbuatan syirik yang banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat Muslim di negeri ini adalah warisan peninggalan nenek moyang yang hidup di zaman kepercayaan animisme, dinamisme dan hindu serta budha. Peninggalan dari nenek moyang tersebut hingga sekarang terus dilestarikan sebagai tradisi budaya meskipun budaya dan tradisi tersebut sangat bertentangan dengan aqidah Islam yang mentauhidkan Allah.
Masyarakat Muslim yang masih kental mempertahankan budaya tradisi warisan nenek moyang mereka menganggap bahwa melestarikan tradisi budaya bangsa perlu dilakukan karena dianggap mempunyai keariban local, mereka samasekali tidak mau mengindahkan larangan agama.
Masyarakat Muslim yang masih memegang teguh warisan budaya syirik tersebut seyogyanya segera bertaubat dan menuntut ilmu agama khususnya ilmu tauhid, ilmu tentang mengesakan Allah. Insya Allah akan selamatlah kelak dari siksa api neraka . Bersegeralah meninggalkan segala bentuk tradisi syirik yang samasekali tidak memberikan manfaat.
( Wallahu’alam )
Sumber :
1.Al-Qur’an dan Terjemahan, www.Salafi-Db
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.Lidwa-Pusaka.com
3.Parasit Akidah,A.D.El.Marzdedeq, Syaamil
4.Kitab Tauhid ( Terjemahan) , Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb ab at Tamimi, Darul Ilmi
5. Artikel www.yufidia.com
Selesai disusun, menjelang zhuhur, 25 Dzulqai’dah 1433H/11 Oktober 2012
( Musni Japrie )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar