Tampilkan postingan dengan label N a s i h a t. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label N a s i h a t. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

JAUHKAN DIRI DARI HAL-HAL YANG DILARANG


 Penting sekali bagi setiap  muslim untuk mengetahui  ketentuan dariAllah subhanahu wa ta’ala baik berupa perintah maupun larangan yang syar’i sebagaimana yang digariskan baik dalam al-Qur’an maupun as- Sunnah. Sehingga dengan  memahami larangan-larangan tersebut maka setiap orang wajib untuk menjauhinya. Dan pada gilirannya dapatlah dijauhi keburukan serta kemudharatan yang ditimbulkannya.
Perkara-perkara yang dilarang dalam agama adalah seluruh perkara yang telah turun larangan atasnya. Larangan adalah lawan dari perintah, yakni tuntutanm untuk menahan diri dari satu perbuatan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sebenarnya begitu banyak kaum terdahulu  yang binasa akibat melanggar syari’at sebagai alasan atas kejahilan dan kezhaliman mereka. Allah Ta’ala berfirman, :

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa 'azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar.
(QS.Asy-Syu’araa : 189)
فَيَأْتِيَهُم بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
maka datanglah 'azab kepada mereka dengan mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya,(QS.Asy-Syur’arra : 202)

Dilain ayat Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا
dan (Kami binasakan) kaum 'Aad dan Tsamud dan penduduk Rass [1069] dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum- kaum tersebut.(QS.Al Furqaan: 38)


Allah ta’ala berfirman :

وَيَا قَوْمِ لاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَن يُصِيبَكُم مِّثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِّنكُم بِبَعِيدٍ
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.(QS.Huud: 89_)

Selain itu sebuah hadits yang diriwayatkan imam Muslim rahimahullaah ta’ala dari Abu Musa radhyallaahu’anhu :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ثُمَّ قَرَأَ [ وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ ] 
Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras

Menjauhi larangan sesungguhnya jauh lebih berat daripada mengerjakan perintah , namun kebanyakan orang-orang lebih menyukai untuk mengerjakakan larangan,hal ini dikarenakan mengerjakan larangan adalah berkaitan dengan hawa nafsu dan paling disukai oleh syaitan.
 Syari’at islam tidak memberikan sedikitpun dispensasi atau kelonggaran pada manusia untuk boleh mengerjakan perbuatan yang dilarang. Berbeda dengan perintah boleh dikerjakan sesuai dengan kemampuan seseorang. Akan hal ini disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhyallaahu’anhu yang diriwayatkan oleh imam Bukhari rahimahullah ta’ala :
صحيح البخاري ٦٧٤٤: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Shahih Bukhari 6744: dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian, hanyasanya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi nabi mereka, jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian."
Berbeda dengan melaksanakan perintah, yang pada umumnya tidak bertentangan dengan hawa nafsu. Karena itulah Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran yang besar dan memberikan pujian pada orang yang mampu menahan hawa nafsunya. Sebagian ulama bahkan mengatakan larangan itu sifatnya lebih berat dibandingkan perintah. sebagaimana sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam,

Mayoritas manusia lebih sulit untuk meninggalkan larangan dibandingkan melaksanakan perintah padahal menurut logikanya, seharusnya meninggalkan larangan relatif lebih mudah dibandingkan melaksanakan perintah. Sebab untuk meninggalkan larangan tidak diperlukan usaha dan tenaga, berbeda dengan perintah. Hal ini disebabkan, meninggalkan perkara yang dilarang itu bertentangan dengan hawa nafsu.
Ibnul  Qaiyim berkata : “ada satu perkara tentasng dosda  yang banyakembuat manusia keliru menyikapinya. Yaitu mereka tidak melihat pengaruh dosa itu langsung pada waktu juga , k,adang kala pengaruhnya terjadi  jauh setelah  itu namun mereka sudah lupa. Lantas mereka mengira bahwa perkaranya sudah selesai. .
Hampir setengah ajaran Islam berupa larangan yang harus dijauhi oleh ummatnya. Ini berarti, orang yang menjauhi seluruh larangan telah mengamalkan hampir setengah hukum Islam, dan sebaliknya yang melanggar seluruh larangan berarti telah melanggar hampir setengah ajarannya.
Imam Ibn Qayyim rahimahullah berkata, “ sesungguhnya bangunan dan pondasi syari’at dibangun diatas hikmah dan kemaslahatan para hamba, didunia dan akhirat. Seluruh syari’at Islam adalah keadilan, rahmat, maslahat dan hikmah.” Syari’at Islam itu sendiri terdiri dari perintah dan larangan , maka larangan yang berlaku terhadap para hamba pun didasarkan atas hikmah dan kemaslahatan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ قُل لاَّ أَتَّبِعُ أَهْوَاءكُمْ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah". Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS.Al An’am : 56 )

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba [174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila [175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS.Al Baqarah : 275 )



Sungguh seseorang belumlah dikatakan bertakwa selama ia masih melakukan perbuatan yang dilarang syari’at walaupun ia seorang yang tekun menjalankan perintah agama. Sebab definisi dari takwa itu sendiri melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Termasuk cermin pribadi yang bertakwa yaitu meninggalkan perkara-perkara yang masih samar (syubhat), yaitu perkara yang tidak jelas antara kehalalan dan keharamannya. Sebab, apabaila seseorang terjerumus kedalam perkara yang syubhat maka dikhawatirkan ia telah terjerumus kedalam perkara yang haram sementara ia tidak menyadarinya. Jika perkara yang syubhat saja diperintahkan untuk ditinggalkan maka untuk perkara yang haram tentu lebih ditekankan untuk ditinggalkan sebagaimana sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam,

صحيح البخاري ١٩١٠: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ
Shahih Bukhari 1910: dari An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhu berkata, telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara yang syubhat (samar). Maka barangsiapa yang meninggalkan perkara yang samar karena khawatir mendapat dosa, berarti dia telah meninggalkan perkara yang jelas keharamannya dan siapa yang banyak berdekatan dengan perkara samar maka dikhawatirkan dia akan jatuh pada perbuatan yang haram tersebut. Maksiat adalah larangan-larangan Allah. Maka siapa yang berada di dekat larangan Allah itu dikhawatirkan dia akan jatuh pada larangan tersebut".

Sesungguhnya totalitas agama itu berpulang pada pelaksanaan perintah, meninggalkan hal-hal yang dilarang dan menahan diri dari syubhat. Umar Ibn Abdul Aziz berkata,”bukanlah ketakwaan kepada Allah itu dengan shalat malam, puasa siang hari atau menggabungkan keduanya, namun ketakwaaan itu adalah mengerjakan apa-apa yang di
Beliau juga berkata,”aku ingin sekiranya aku tidak mengerjakan shalat kecuali shalat lima waktu dan shalat witir; menunaikan zakat dan kemudian tidak bersedekah lagi meskipun hanya satu dirham; melaksanakan puasa Ramadhan dan kemudian tidak berpuasa lagi meskipun hanya satu hari; mengerjakan haji yang wajib dan kemudian tidak menunaikan haji lagi; akan tetapi kemudian aku kerahkan seluruh sisa kekuatan untuk menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah.”

Dari perkataan  Umar ibn Abdul Aziz tersebut diatas dapat dipahami bahwa sesungguhnya menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala sesungguhnya lebih utama dari mengerjakan amalan-amalan yang bersifat sunnah, kecuali yang bersifat wajib tentunya lebih utama dari dibandingkan dari menahan diri dari perkara-perkara yang dilarang.

Sahl bin Abdullah radhyallaahu’anhu berkata : Meninggalkan perintah Allah itu lebih besar dosanya disisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada melanggar larangan Nya. Hal ini karena Nabi Adam alaihi sallam diterima taubatnya oleh Allah setelah beliau memakan buah pohn yang dilarang oleh-Nya. Serdangkan Iblis tidak diampuni karena menolak untuk bersujud kepada Adam, ketika Allah memerintahkannya untuk melakukan hal itu.

Ibnu Qaiyin rahimahullah menyebutkan bahwa : “ Dosa melanggar larangan biasanya terjadi karena syahwat dan  kebutuhan, sedanglkan meninggalkan perintah biasanya disebabkan oleh kesombongan dan keangkuhan.Sedangkan seseorang tidak akan masuk surga yang dihatinyas  bercokol kesombongan walaupun seberat dzarrah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat imam Muslim rahimahullah ta’ala dari  Ibnu Mas’ud radhyallahu’anhu :

: صحيح مسلم ١٣١: و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Shahih Muslim 131: dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

 Sebaliknya ,akan masuk surga orang yang membawa mati tauhid, sekalipun ia pernah berzina dan mencuri. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat imaBukhari rahimahullah ta’ala :

صحيح البخاري ١١٦١: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الْأَحْدَبُ عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي فَأَخْبَرَنِي أَوْ قَالَ بَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ


Shahih Bukhari 1161: dari Abu Dzar radliallahu 'anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Baru saja datang kepadaku utusan dari Rabbku lalu mengabarkan kepadaku" atau Beliau bersabda: "Telah datang mengabarkan kepadaku bahwa barangsiapa yang mati dari ummatku sedang dia tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga". Aku tanyakan: "Sekalipun dia berzina atau mencuri?" Beliau menjawab: "Ya, sekalipun dia berzina atau mencuri".

Lebih lanjut Ibnu Qaiyim rahimahullah ta’ala mengemukakan bahwa semua yang dilarangan adalah penghalang untuk melaksanakan sesuatu yang diperintahkan: atau setidaknya ia dapat membuat pelaksanaanya menjadi tidak sempurna.Jika sesuatu yang dilarang itu pernah terbesit di dalam hati seseorang , namun dia menahan  diri dari meninggalkannya karena Alllah dan bukan karena terpaksa , maka orang tyang bersangkutan mendapatkan pahala karena tel;ah menahan dan mencegah dirinya dari yang  terlarang tersebut. Sebab, apa yang ditinggalkannya itu sudah dikatagorikan sesuatu yang nyata. Sementara pahala hanya dapat diperoleh dengan mengerjakan  sesuatu yang kongkrit, bukan dengan sesuatu yang tidak ada.
Kemudian disebutkan juga oleh Ibnu Qaiyim rahimahullah ta’ala : “Adapun jika seseorang meninggalkan sesuatu yang dilarang karena tidak mampu melakukannya  padahal hatinya bertekad melakukan nya, maka orang yang sedemikian akan dihukum Allah karena kebulatan niat dalam hatinya untuk melakukannya, sekalipun tidak dihukum dengan hukuman orang yang melakukan larangan tersebut dengan kemampuannya. Sebab , ia tidak dapat mencapai tujuannya karena memang tidak mampu melakukannya. Ini ditegaskan dalam firman Allah ta’ala :



لِّلَّهِ ما فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Al Baqarah : 284 )


Selain itu dalam ayat yang lainnya Allah berfirman :


لاَّ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِيَ أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ


Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun( QS.Al Baqarah : 225 )


Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan bahwa melakulan perintah dibalas sepuluh kali lipat, sedangkan melakukan hal yang dilarang dibalas demngan satu balasan yang setimpal. Hal ini menunjukkan bahwa melaksanakan pertintah lebih Allah sukai daripada meninggalkan laranganm. Sebab jika sebaliknya, maka balasan bagi yang meninggalkan satu keburukan adalah sepuluh kali lipatnya, sedeangkan balasan mengerjakan satu kebaikan satu kali lipatnya atau sebanding dengan kebaikan tersebut.

Ibnu Qaiyim mengatakan : tujuan dari sedbuah larangan adalah tidak melan ggarnya, dan agar perkara yang terlarang itu tetap tidak terjadi, b aik seseorang , baik seorang pernah b erniat untuk melanggarnya ataupun tidak, baik terlintas dalam hatinya keinginan untuk melanggarnya ataupun tidak. Intinya tujuan dari larangan adalah agar sesuatu yang dilarang tetap tidak terjadi.



 Larangan-Larangan Yang Termasuk Dalam Tujuh Puluh Dosa Besar.

Sesungguhnya syari’at telah menetapkan secara rinci tentang larangan yang diberlakukan kepada umat Islam, baik larangan terhadap sesuatu yang berakibat pada timbulnya dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa yang bersifat besar. Dan Larangan tersebut jumlahnya cukup banyak,  dimana larangan-larangan tersebut ada yang disebutkan dalam al-Qur’an dan ada pula yang bersumber dari as-Sunnah      

Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah ta’ala dalam buku beliau al-Kaba’ir , Dosa- Dosa Yang membinasakan . Beliau menyebutkan bahwa ada riwayat dari Ibnu Abas radhyallaahu’anhuma berkata : “ Dosa-dosa b esar tersebut lebih dekat kepada jumlah tujuh puluh daripada tujuh “ Demi Allah, Ibnu Ababas telah berkata benar.

Lebih lanjut imam Adz-Dzahabi rahimahullaah ta’ala me yebutkan  bahwa  sebagian dosa-dosa b esar tingkatannya ada yang lebih besar daripada sebagian dosa yang lainn ya. ASpakah anda tidak melihat ketika Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam memasukkan perbuatan syirik kepada Allah termasuk diantara jajaran dosa b esar. Pelakunya akan kekal di dalam neraka dan tidak ada ampunan baginya untuk selama-lamanya.
Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS.An Nisaa: 48).

Dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain disebutkan :


لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(QS. Al Maidah : 72 )

Termasuk kedalam golongan dosa besar  adalah berdusta sebagaimana hadist Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitab Shahih nya  :


صحيح البخاري ٥٥١٩: حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْوَاسِطِيُّ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لَا يَسْكُتُ

Shahih Bukhari 5519: dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang termasuk dari dosa besar? Kami menjawab; "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua." -ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk lalu melanjutkan sabdanya: "Perkataan dusta dan kesaksian palsu, perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus saja mengulanginya hingga saya mengira beliau tidak akan berhenti."


Dalam kitab al-Kaba’ir oleh Imam Adz-Dzahabi disebutkan yang termasuk dalam katagori 70 dosa-dosa besar itu antara lain: Menyekutukan Allah ( syirik)  dalam berbagai bentuknya,  membunuh orang lain, perbuatan sihir,meninggalkan shalat ,tidak mau membayar zakat, durhaka kepada kedua orang tua, Memakan riba, memakan harta anak yatim secara zhalim, b erdusta atas nama Allah, membatalkan oluasa rammdahan tanpa alasan ,lari dari medan pertempuran, berzinah, pemimpin yang hianat dan zhalim, meminum khamar, menyombongkan diri/ takabur/ ujub dan angkuh,homoseks, menuduh wanita b aik b aik berzinah,mengambil harta orang lain secara b athil, mencuri, sumpah palsu, bunuh diri ( dosa besar yang paling besar) ,hakim yang jahat, suami yang membiarkan kemunkaran di keluarganya, memakan bangkai/darah dan daging babi,tidak bersuci setelah kencing, pemalak/pungutan liar, riya, khianat,mengungkit-ngungkit kebaikan, tidak b eriman kepada takdir, tukang laknat, menghianati pemimpin, membenarkan dukun dan akhli nujum, isteri durhaka, m emutuskan hubungan kekerabatan, memngadu domba, meratap dan menampar pipi ketika keluarga meninggal,semena-mena, memberontak dan mengkafirkan orang, dan banyak lagi yang lainnya.

Syaikh Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata “ Sesungguhnya syaitan suka meremehkan dosa-dosa ini kedalam hati seorang hamba . Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mewaspadai hal tersebut. Beliau bersabda :

Berhati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh, karena perumpamaan hal ini seperti kelompok orang yang menetap di suatu daerah Kemudian masing-masing orang membawa sebatang ranting. Kemudian setelah dikumpulkan menjadi sekumpulan kayu bakar sehingga mereka bisa menyakan api.”

Inilah perumpamaan untuk dosa-dosa yang diremehkan manusia. Oleh karena itu para ulama berkata : “ Sesungguhnya dosa kecil yang dilakukan terus menerus akan menjadi dosa besar. Meminta ampunan dari dosa besar bisa menghapuskannya.”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah ta’ala berkata , “ Dosa besar adalahdosa yang berakibat ditimpakannya siksa yang bersifat khusus” Yaitu dosa yang Allah dan Rasul-Nya akan menimpakan siksa khusus kepadanya. Seperti berupaka siksaan yang sifatnya duniawi atau ukhrawi ( di akhirat). Karena perbvuatan dosa bisa jadi karena melakukan sebuah perklara yang dilarang, diharamkan dan lain sebagainya.


Sungguh seseorang belumlah dikatakan bertakwa selama ia masih melakukan perbuatan yang dilarang syari’at walaupun ia seorang yang tekun menjalankan perintah agama. Sebab definisi dari takwa itu sendiri melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Termasuk cermin pribadi yang bertakwa yaitu meninggalkan perkara-perkara yang masih samar (syubhat), yaitu perkara yang tidak jelas antara kehalalan dan keharamannya. Sebab, apabaila seseorang terjerumus kedalam perkara yang syubhat maka dikhawatirkan ia telah terjerumus kedalam perkara yang haram sementara ia tidak menyadarinya. Jika perkara yang syubhat saja diperintahkan untuk ditinggalkan maka untuk perkara yang haram tentu lebih ditekankan untuk ditinggalkan sebagaimana sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, :

صحيح البخاري ١٩١٠: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ
Shahih Bukhari 1910: dari An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhu berkata, telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara yang syubhat (samar). Maka barangsiapa yang meninggalkan perkara yang samar karena khawatir mendapat dosa, berarti dia telah meninggalkan perkara yang jelas keharamannya dan siapa yang banyak berdekatan dengan perkara samar maka dikhawatirkan dia akan jatuh pada perbuatan yang haram tersebut. Maksiat adalah larangan-larangan Allah. Maka siapa yang berada di dekat larangan Allah itu dikhawatirkan dia akan jatuh pada larangan tersebut".


K h a t i m a h

Larangan yang digariskan dalam agama oleh Allah subhanahu wa ta’ala baik yang dituangkan dalam  al-Qur’an maupun as- Sunnah tiada lain adalah untuk membatasi agar umat Islam tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dan bertolak belakang dengan kebaikan yang diusung oleh agama. Larangan larangan yang diatur dalam Islam dimaksudkan pula agar umat Islam tidak melampaui batas kewajaran sehingga berdampak menjadi suatu keburukan bahkan dapat memberikan  kemudharatan tidak saja bagi dirinya juga bagi pihak lain.

Prinsif dari larangan dalam Islam pada hakikatnya adalah untuk menyelamatkan umat Islam agar tidak terjerumus kedalam tindakan-tindakan  yang berdampak negatif dan selamat di dunia dan akhirat.
Untuk itu suatu kewajiban yang mutlak untuk menta’ati akan larangan-larangan yang ditetapkan All ah subhanahu wa ta’ala dengan meninggalkan dan menjauhinya agar tidak terseret dan terbawa-bawa oleh arus kuat berupa godaan hawa nafsu dan syaitan. ( Wallaahu ta’ala a’lam )


Sumber :

1.Al-Qur’an dan Terjemahan : www.salafi-db.com,
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam: www.lidwapusaka.com
3.Riyadus Shalihin  Imam Nawawi ( Terjemahan ) : www.salafi-db.com
4.Fawaid ( Terjemahan (, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka Imam Syafi’i

5. Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali

6.Artikel www. wahdah.or.id

Samarinda,  Menjelang Dzuhur 20 Jumadil Tsani 1434 H / 1 Mei 2013 M

(Musni Japrie )







Rabu, 24 April 2013

B E R T A U B A T L A H




Sesungguhnya tidak ada satu manusia pun yang terbebas dari dosa walausekecil apapun bentuklnya.. Namun demikian Allah  subhanahu wa ta’ala  dengan rahmatnya kepada hamba-hamba-Nya selalu memberikan kepada mereka yang berbuat dosa kesempatan untuk meminta ampun dan bertaubat  bertaubat dari segala dosa dan kesalahan. Allah selalu membukakan pintu taubat-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat selama ruhnya belum berada di kerongkongan atau matahari terbit dari barat.
Taubat  berarti merasa bersalah atau menyesal atas perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Tentunya taubat seorang yang berdosa hendaklah dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh bukan bertaubat kemudian dengan mudahnya dia mengulangi lagi perbuatan maksiatnya. Inilah yang disebut dengan Taubat Nashuha artinya taubat yang sebenar-benarnya, murni dan tulus, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu'min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala\sesuatu."(QS.At Tahriim : 8 )
Dosa yang dilakukan seorang manusia baik yang terkait dengan Allah swt, seperti : tidak menjalankan perintah-perintah-Nya ataupun dosa yang terkait dengan manusia lainnya, seperti : mencuri harta bendanya dan lainnya, menuntutnya untuk melakukan taubat agar Allah swt memberikan ampunan kepadanya dan manusia yang dizhalimi tersebut memberikan pemaafan kepadanya.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin Imam An-Nawawi diketengahkan sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lain-lainnya dan Imam Tirmidzi mengatakan bahawa Hadis ini adalah hasan shahih.:
- وعن أبي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخدري رضي الله عنه أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفساً، فسأل عن أعلم أهل الأرض، فدل على راهب، فأتاه فقال‏:‏ إنه قتل تسعه وتسعين نفساً، فهل له من توبة‏؟‏ فقال‏:‏ لا، فقتله فكمل به مائةً، ثم سأل عن أعلم أهل الأرض، فدل على رجل عالم فقال‏:‏ إنه قتل مائة نفس فهل له من توبة‏؟‏ فقال‏:‏ نعم، ومن يحول بينه وبين التوبة‏؟‏ انطلق إلى أرض كذا وكذا، فإن بها أناساً يعبدون الله تعالى فاعبد الله معهم، ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوءٍ، فانطلق حتى إذا نصف الطريق أتاه الموت، فاختصمت فيه ملائكة الرحمة وملائكة العذاب‏.‏ فقالت ملائكة الرحمة‏:‏ جاء تائبا مقبلا بقلبه إلى الله تعالى، وقالت ملائكة العذاب‏:‏ إنه لم يعمل خيرا قط، فأتاهم ملك في صورة آدمي فجعلوه بينهم- أي حكماً- فقال‏:‏ قيسوا ما بين الأرضين فإلى أيتهما كان أدنى فهو له، فقاسوا فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد، فقبضته ملائكة الرحمة‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

‏وفي رواية في الصحيح‏:‏ ‏ ‏ فكان إلى القرية الصالحة بشبر، فجعل من أهلها‏ ‏ وفي رواية في الصحيح‏:‏ ‏ ‏ فأوحى الله تعالى إلى هذه أن تباعدي، وإلى هذه أن تقربي، وقال‏:‏ قيسوا ما بينهما، فوجدوه إلى هذه أقرب بشبرٍ فغفر له‏ ‏ وفي رواية‏:‏ ‏ ‏فنأى بصدره نحوها‏ ‏‏ ‏
. Dari Abu Said, iaitu Sa'ad bin Sinan al-Khudri r.a. bahawasanya Nabiullah shallallahu’alaihi wa sallam . bersabda:
"Ada seorang lelaki dari golongan ummat yang sebelummu telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, ialu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. la pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahawa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah masih diterima untuk bertaubat. Pendeta itu menjawab: "Tidak dapat." Kemudian pendeta itu dibunuhnya sekali dan dengan demikian ia telah menyempurnakan jumlah  seratus dengan  ditambah  seorang  lagi  itu.  Lalu  ia bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia mengatakan bahawa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya. Orang alim itu menjawab: "Ya, masih dapat. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu. Pergilah engkau ke tanah begini-begini, sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang sama menyembah Allah Ta'ala, maka menyembahlah engkau kepada Allah itu bersama-sama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk." Orang itu terus pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian.
Kemudian bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat kerahmatan dan malaikat siksaan - yakni yang bertugas memberikan kerahmatan dan bertugas memberikan siksa, malaikat kerahmatan berkata: "Orang ini telah datang untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta'ala." Malaikat siksaan berkata: "Bahawasanya orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun."
Selanjutnya ada seorang malaikat yang mendatangi mereka dalam bentuk seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, yakni dijadikan hakim pemutusnya - untuk menetapkan mana yang benar. Ia berkata: "Ukurlah olehmu semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya - maksudnya jikalau lebih dekat ke arah bumi yang dituju untuk melaksanakan taubatnya, maka ia adalah milik malaikat kerahmatan dan jikalau lebih dekat dengan bumi asalnya maka ia adalah milik malaikat siksaan." Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahawa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakan taubatnya. Oleh sebab itu maka ia dijemputlah oleh malaikat kerahmatan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan demikian: "Orang tersebut lebih dekat sejauh sejengkal saja pada pedesaan yang baik itu - yakni yang hendak didatangi, maka dijadikanlah ia termasuk golongan penduduknya."
Dalam riwayat lain yang shahih pula disebutkan: Allah Ta'ala lalu mewahyukan kepada tanah yang ini - tempat asalnya - supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini - tempat yang hendak dituju - supaya engkau mendekat - maksudnya supaya tanah asalnya itu memanjang sehingga kalau diukur akan menjadi jauh, sedang tanah yang dituju itu menyusut sehingga kalau diukur menjadi dekat jaraknya. Kemudian firmanNya: "Ukurlah antara keduanya." Malaikat-malaikat itu mendapatkannya bahawa kepada yang ini -yang dituju - adalah lebih dekat sejauh sejengkal saja jaraknva. Maka orang itupun diampunilah dosa-dosanya."
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: "Orang tersebut bergerak - amat susah payah kerana hendak mati - dengan dadanya ke arah tempat yang dituju itu

Dari hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam tersebut diatas digambarkan  secara jelas seberapapun besarnya dosa anak manusia yang telah ia lakukan niscaya Allah Yang Maha Pengampun akan  memberikan ampunan-Nya asalkan mereka yang melakukan perbuatan dosa tersebut meminta ampun dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Hal tersebut ditegaskan dalam salah satu firman Allah subhanahu wa ta’ala :

اعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( QS.Al-Maidah : 98 )

Sesungguhnya banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menyinggung tentang Allah sebagai Maha Pengampun, antara lain :
Firman Allah ta’ala

نَبِّىءْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,(QS.Al Hijr : 49)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,(QS. Nuh : 10)

Mengingat bagaimana kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya dengan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan hamba-hamba tersebut maka wajib bagi siapa saja yang telah melakukan perbuatan dosa untuk meminta ampun dan bertaubat .
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang- orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan [277], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.An Nisaa: 17)


Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala itu maha bijaksana,  karena  berkenan untuk memberikan ampunan kepada mereka-mereka yang telah melakukan perbuatan dosa dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang.

Imam at-Tarmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik radhyallahu’anhu :


سنن الترمذي ٣٤٦٣: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَقَ الْجَوْهَرِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ فَائِدٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَال سَمِعْتُ بَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ


Sunan Tirmidzi 3463: Anas bin Malik ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mensekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi."

Betapapun besarnya dosa-dosa  sebagai akibat perbuatan yang dilakukan oleh seseorang niscaya Allah Yang Maha Pengampun akan memberikan ampunan dan menghapuskan segala kesalahannya.

Sesungguhnya Allah azza wa jalla itu maha pengampun, dan akan memberikan ampunan kepada mereka-mereka yang meminta ampun. Karenanya barang siapa yang telah berbuat dosa seberapapun ukurannya, maka bersegeralah meminta ampun.  Mengenai hal ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya  dari Abu Hurairah radhyallahu’anhu :


صحيح البخاري ١٠٧٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ


Shahih Bukhari 1077: dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rabb Tabaaraka wa Ta'ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: "Siapa yang berdo'a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni".


Diriwayatkan oleh imam Abu Daud rahimahullah ta’ala dalam kitab Sunan-nya sebuah hadits dari Asma bin Al Hakam al-Fazari :


اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا نَفَعَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِمَا شَاءَ أَنْ يَنْفَعَنِي وَإِذَا حَدَّثَنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ اسْتَحْلَفْتُهُ فَإِذَا حَلَفَ لِي صَدَّقْتُهُ قَالَ وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ وَصَدَقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ
{ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ }
إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

Sunan Abu Daud 1300: dari Asma` bin Al Hakam Al Fazari, ia berkata; aku mendengar Ali radliallahu 'anhu berkata; aku adalah seorang laki-laki yang apabila mendengar dari Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam sebuah hadits maka Allah memberiku manfaat dari haditsnya sesuai dengan kehendakNya. Dan apabila ada seseorang diantara para sahabatnya menceritakan kepadaku maka aku memintanya agar bersumpah, apabila ia bersumpah maka aku membenarkannya. Ali berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Bakr dan Abu Bakr radliallahu 'anhu telah benar bahwa ia berkata; aku mendengar Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka'at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya." Kemudian beliau membaca ayat ini: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."


Allah Yang Maha Pengampun akan selalu memberikan ampunan bagi hamba-hambanya yang meminta ampun dengan mengucapkan istigfar sebagaimana hadits yang diriwayat Imam Abu Daud rahimahullah ta’ala  :


سنن أبي داوود ١٢٩٦: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ بْنِ مُرَّةَ الشَّنِّيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّي
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ


Sunan Abu Daud 1296: Telah menceritakan kepada Kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada Kami Hafsh bin Umar bin Murrah Asy Syanni, telah menceritakan kepadaku ayahku yaitu Umar bin Murrah, ia berkata; saya mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid mantan budak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata; aku mendengar ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku bahwa ia mendengar Rasulullah shallla Allahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang mengucapkan; ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH (aku memohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang Maha Hidup dan Yang terus mengurus makhlukNya, dan aku bertaubat kepadaNya), maka dia pasti akan diampuni walaupun dia pernah lari dari medan pertempuran."


2.Allah Ta’ala Maha Penerima Taubat Penerima Taubat


Allah subhanahu wa ta’ala sesungguhnya adalah Allah yang maha penerima taubat dari hamba-hambanya yang mengakui telah berbuat dosa, akan hal ini telah
ditegaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya :


فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat [40] dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al B aqarah : 37)


 Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan dan mewajibkan bagi setiap hamba-Nya untuk meminta ampun dan bertaubat sebagaimana yang banyak disebutkan dalam beberapa firman-Nya yang tercantum dalam al-Qur’an.

Allah berfirman :

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. ( Qs.An-Nashr:3)


Firman Allah ta’ala :

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, (QS.Asy Syuura : 25 )


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

أَلَمْ يَعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (QS.At Taubah : 104)

Bagi mereka- mereka yang telah berbuat dosa karena telah melakukan perbuatan yang terlarang, maka seyogyanya untuk segera bertaubat sebelum datangnya kematian, bertaubat sebelum terlambat. Sebagaimana yang Allah subhanahu perintahkan sesuai denmgan firman-Nya  :


وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. An-Nisaa: 18 )

Sebagaimana diketahui bahwa Allah itu maha pemberi ampun, karenanya bagi mereka-mereka yang telah melanggar ketentuan dalam agama seyogyanya untuk segera meminta ampun dan bertaubat, janganlah sampai ada anggapan bahwa Allah tidak akan memberikan ampunan dan menerima taubat seseorang, jangalah berputus asa . Allah telah mejanjikan kepada hamba-hamba-Nya untuk memberikan ampunan sebagaimana firman Allah ta’ala :


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Az-Zumar : 53 )

Sesungguhnya taubat itu dalam Islam mempunyai arti yang sangat penting, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala sangatlah bergembira terhadap taubatnya para hamba-hamba-Nya sesuai dengan hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam , dimana Imam Bukhari rahimahullah dalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Anas radhyaallahu’anhu :

صحيح البخاري ٥٨٣٤: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا هُدْبَةُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ

Shahih Bukhari 5834:  dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Hudbah telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang yang luas."

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan peluang yang besar kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan senatiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya baik pada malam maupun siang hari bagi mereka yang mau bertaubat. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat imam Muslim rahimahullah ta’ala dari Abu Musa Radhyallahu’anhu :

صحيح مسلم ٤٩٥٤: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُوسَى
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِه
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ
Shahih Muslim 4954: dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orng yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat."

Betapa pentingnya taubat itu bagi setiap muslim, hal ini ditunjukkan dan dicontohkan  oleh Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam, dimana beliau selalu meminta ampun, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud rahimahullah ta’ala dari Abu Musa radhyallaahu’anhu :

سنن أبي داوود ١٢٩٥: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Sunan Abu Daud 1295: dari Ibnu Umar, ia berkata; sungguh Kami telah menghitung ucapan Rasulullah shallla Allahu 'alaihi wa sallam dalam satu majlis beliau "RABBIGHFIRLII WA TUB 'ALAYYA, INNAKAT TAWWAABUR RAHIIM" (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang) sebanyak seratus kali.

Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam yang terjaga dari segala kesalahan dan dosa tetap meminta ampun dan bartaubat, lalu bagaimana dengan umatnya yang tidak pernah terlepas dari kesalahan dan perbuatan dosa, tentunya perlu mencontoh bagaimana sikap Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Mereka-mereka yang telah melakukan pelanggaran larangan yang ditetapkan namun tidak meminta ampun dan bertaubat maka niscaya kesengsaraanlah yang kelak yang akan diperoleh. Dan sebaliknya mereka yang telah bergelimang dalam perbuatan yang berdosa maka apabila mereka bertaubat dari segala dosa dan perbuatan yang terlarang yang kemudian mereka menjaga dirinya agar selamat dari berbagai perbuatan yang terlarang.

Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala itu maha bijaksana,  karena  berkenan untuk memberikan ampunan kepada mereka-mereka yang telah melakukan perbuatan dosa akibat  perbuatan-perbuatan yang terlarang.Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya :

Allah berfirman :


وَالَّذِينَ عَمِلُواْ السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُواْ مِن بَعْدِهَا وَآمَنُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al A’raf : 153 )


Perlu diketahui bahwa betapa gembiranya Allah subhanahu wa ta’ala apabila hamba-hamba-Nya yang berdosa mengakui kesalahannya  kemudian meminta ampun dan bertaubat. Hal tersebut disebutkan dalam hadits riwayat imam Bukhari rahimahullah ta’ala dari Anas bin Malik radhyallahu’anhu :


صحيح البخاري ٥٨٣٤: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا هُدْبَةُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ

Shahih Bukhari 5834: dari  Anas bin Malik  radliallahu 'anh dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang yang luas."


Mengingat maha bijaksananya Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayangnya kepada hamba-hamba-nya dengan pemberian ampun dan penerima taubat, maka seyogyanya setiap kaum muslimin terutama yang merasa telah berbuat kemaksiatan dan kemunkaran sekecil dan sebesar apapun hendaknya  segera meminta ampun dan bertaubat. Insya Allah ta’ala akan dikabulkan permohonan ampun dan diterima taubatnya. Sehingga kelak diakhirat mendapatkan kelapangan.
(Wallahu ta’ala a’lam )



S u m b e r :

1.Al-Qur’an dan Terjemahan : www.salafi-db
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.lidwapusaka.com
3.Terjemahan Riyadhus Shalilin Imam An-Nawawi, www.salafi-db
Samarinda, Ba’da dhuha , 14 Jumadil akhir 1434  H /25 April 2013 M
(Musni Japrie )