Tampilkan postingan dengan label H i k m a h. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label H i k m a h. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

BULAN MUHARRAM



Bulan Suro –yang dalam Islam dikenal dengan bulan Muharram- terkenal sakral dan penuh mistik di kalangan sebagian orang. Saking sakralnya berbagai keyakinan keliru bermunculan pada bulan ini. Berbagai ritual yang berbau syirik pun tak tertinggalan dihidupkan di bulan ini. Bulan Muharram dalam Islam sungguh adalah bulan yang mulia. Namun kenapa mesti dinodai dengan hal-hal semacam itu?

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[1]

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[2]

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[3]

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram)[4] Jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Bulan Suro, Bulan Penuh Bencana dan Musibah

Itulah berbagai tanggapan sebagian orang mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.

Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: ”Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”

Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.

Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.

Mencela Waktu atau Bulan

Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah: 24). Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.

Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.”[5]

Jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang, bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.

Merasa Sial dengan Waktu Tertentu

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.”[6]

Ini berarti bahwa beranggapan sial dengan sesuatu baik dengan waktu, bulan atau beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yang terlarang bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan.



Jangan Salahkan Bulan Suro!

Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa, sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibroh bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah ’Azza wa Jalla (yang artinya), ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa: 30)

Syaikh Sholih bin Fauzan hafizhohullah mengatakan, ”Jadi, hendaklah seorang mukmin bersegera untuk bertaubat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta ridho dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan karena dosa yang telah dia lakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.”[7]

Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun yang harus kita ketahui bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakkal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah taubat serta istighfar pada Allah ’azza wa jalla.

Lalu pantaskah bulan Suro dianggap sebagai bulan sial dan bulan penuh bencana? Tentu saja tidak. Banyak bukti kita saksikan. Di antara saudara kami, ada yang mengadakan hajatan nikah di bulan Suro, namun acara resepsinya lancar-lancar saja, tidak mendapatkan kesialan. Bahkan keluarga mereka sangat harmonis dan dikaruniai banyak anak. Jadi, sebenarnya jika ingin hajatannya sukses bukanlah tergantung pada bulan tertentu atau pada waktu baik. Mengapa harus memilih hari-hari baik? Semua hari adalah baik di sisi Allah. Namun agar hajatan tersebut sukses, kiatnya adalah kita kembalikan semua pada Yang Di Atas, yaitu kembalikanlah semua hajat kita pada Allah. Karena Dia-lah sebaik-baik tempat bertawakal. Inilah yang harus kita ingat.
Yang Mesti Dilakukan: Isilah Bulan Muharram dengan Puasa
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[8]

Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[9]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad  di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.[10]
Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.[11]
Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:  [1] Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus, dan [2] Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[12]

Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009.
Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
6 Muharram 1431 H, di Pogung Kidul, Jogja

[1] HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679
[2] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir
[3] HR. Muslim no. 2812
[4] Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H
[5] HR. Muslim no. 6000
[6] HR. Abu Daud no. 3912. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 429. Lihat penjelasan hadits ini dalam Al Qoulul Mufid – Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
[7] Lihat I’anatul Mustafid dan Syarh Masa’il Jahiliyyah
[8] HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.
[9] HR. Muslim no. 1162.
[10] HR. Muslim no. 1134, dari Ibnu ‘Abbas.
[11] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim, 8/12-13.
[12] Lihat Tajridul Ittiba’, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili, hal. 128, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1428 H.
Di copy paste dari Artikel http://rumaysho.com

Selasa, 07 Agustus 2012

LAILATUL QADAR LIMPAHAN BONUS KEBERKAHAN,KEBAIKAN,RAHMAT DAN GANJARAN PAHALA BERLIPAT GANDA



Sebagaimana yang dimaklumi oleh seluruh kaum muslimin bahwa bulan ramadhan yang disebut-sebagai bulan sucinya umat islam merupakan satu-satunya bulan yang mempunyai keistimewaan diantara 12 bulan bulan lainnya, karena didalam bulan ramadhan ini banyak sekali berbagai hal keutamaan yang dikandungnya seperti ibadah puasa sebulan penuh. Selain itu bulan ramadhan dikatakan mempunyai keutamaan karena dalam bulan ini juga diturunnya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam furman Allah Subhanahu wata’ala adalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 185 : مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَ هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. “ Selain mempunyai keutamaan berupa diturunkannya al-Qur’an dibulan ramadhan ini, maka keutamaan lain yang tidak kalah pentingnya adalah terdapatnya suatu malam yang di dalamnya mengandung nilai keberkahan karena adanya Lailatul Qadar. Kepastian adanya Lailatul Qadar itu didalam bulan ramadhan ini adalah sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah di dalam al-Qur’an surah al-Qadr ayat 1 : إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan Malam kemuliaan" dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam "Lailatul Qadr" yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur'an. Di surah lain yaitu dalam ad-Dukhaan ayat 3 Allah Subhanahu Ta’ala juga menyebutkan bahwa al-Qur’an diturunkan di dalam bulan kemuliaan : إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ “ sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” Malam yang diberkahi ialah malam Al Qur'an pertama kali diturunkan. Di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Berdasarkan dua ayat tersebut diatas oleh para ulama secara tegas memastikan bahwa bulan ramadhan adalah sebagai bulan keberkahan yang didalamnya diturunkan al-Qur’an sesuai dengan ayat 185 surah al-Baqarah , sedangkan di surah al-Qadr ayat 1 dan ad-Dukhaan ayat : 3. Kalangan masyarakat islam meyakini sepenuhnya bahwa pada salah satu malam diantara sepuluh hari terakhir bulan ramadhan terdapat satu malam yang mengandung kemulian dan keberkahan, karena pada malam tersebut berlangsungnya Lailatul Qadar yang oleh al-Qur’an dinyatakan sebagai malam kemuliaan yang ibadah pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, sesuai dengan Firman Allah di surah al-Qadr ayat 3: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Abdurrahman as-Sa’di sebagaimana yang dikutip oleh ustadz Abu Musa al-Atsari dalam tulisannua di Majalah Adz-Dzakhiirah, bahwa maksudnya, keutamaanya sebandung dengan seribu bulan, amalan yang dikerjakan pada malam itu lebih baik daripada amalan pada seribu bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. Ustadz Abu Musa Al-Atsari juga menyebutkan, Mujahid, Qatadah, dan Imam Syafi’I rahimahullaah berkata : Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan yang padanya tidak adanya lailatul qadar. Disebutkan juga Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata : Telah sampai kepadaku, bahwa Mujahid rahimahullaah berkata (perihal ayat diatas) : amalan,puasa, dan qiyamul (shalat malam) pada malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Ditambahkan pula bahwa pada malam Lailatul Qadr Malaikat turun, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Qadr ayat 4: تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” Ibnu Katsir rahimahullah seperti dikutip UstadzAbu Musa al-Atsari berkata : Begitu banyak malaikat yang turun pada malam ini karena melimpahnya berkah, malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat, sebagaimana mereka turun ketika al-Qur’an dibaca, mereka meliputi majelis-majelis ilmu, dan dengan tulus mereka meletakkan sayap-sayapnua untuk penuntut ilmu, sebagai penghargaan teruntuk mereka. Ustadz Abu Musa al-Atsari juga lebih jauh mengemukakan bahwa pada malam itu keamanan dan kesejahteraan meliputi orang-orang beriman, malaikat senatiasa mendoakan keselamatan bagi mereka . Sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Qadr ayat : 5: سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. Coba kita bayangkan sendiri bagaimana keistimewaan malam lailatul qadar yang pada malam itu Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan ganjaran yang tak terhitung banyaknya atas ibadah yang dilakukan serta memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang nilainya sama dengan apabila ibadah dilakukan melebihi 1000 bulan atau selama kurang lebih 83 tahun secara terus menerus. Yang kalau dihitung dengan umur manusia yang relatif rata-rata jarang dapat mencapai 83 tahun. Dan inilah bonus yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya. Dan coba dibayangkan dan direnungkan secara lebih mendalam bahwa lailalatul qadar tersebut sebenarnya berlangsung dalam satu malam pada setiap tahun dibulan ramadhan, selama umur dunia sampai dihari kiamat. Dengan demikian masih adakah dikalangan umat islam yang kurang meyakini dan meragukan betapa maha pemurahnya Allah Subhanahu Wata’ala kepada setiap hamba-Nya . Lailatul Qadar Untuk Semua Kaum Mukmin Dari ulasan yang dikemukan diatas maka Allah Subhanahu Wata’ala telah melimpahkan malam lailatul qadar kepada seluruh hambanya yang beriman, sehingga siapapun mereka tidak akan terlepas dari keutamaan malam tersebut, dan mereka akan memperoleh keutamaan yang nilainya lebih besar dari seribu bulan dibanding dengan bulan-bulan lainya, apabila melakukan amalan dan ibadah-ibadah sesuai dengan syari’at. Dan tentunya apabila diantara kaum muslimin ada yang tidak melakukan amalan-amalan keibaikan dan ibadah sudah barang tentu tidak akan memperoleh keberkahan dan nilai kebaikan dimaksud. Karena malam lailatul qadar dengan keutamaanya tersebut dikhususkan bagi mereka-mereka yang dimalam tersebut beribadah sampai terbitnya fajar. Ustadz Abu Musa al Atsari dalam tulisan beliau mengenai Lailatul Qadar Malam Kemuliaan, mengemukakan ucapan Syaikh Utsaimin rahimahullaah yang membawa angin segar bagi kita, beliau berkata “ Dan ketahuilah juga,siapa saja yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala pasti akan mendapatkan ganjarannya, baik ia mengetahui malam itu Lailaltul Qadar atai tidak .Meskipun seandainya orang itu tidak mengetahui tanda-tandanya, atau tidak waspada dengannya dikarenakan tertidur atau sebab lain, akan tetapi ia telah mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala. Maka Allah Ta’ala pasti akan mem berikan pahalanya, yaitu bahwasanya Dia akan mengampuni dosanya yang telah lalu. Syaikh Utsaimin rahimahullaah juga berkata : Ketetapan ganjaran lailatul qadar dapat diraih oleh orang yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala, baik mengetahuinya ataupun tidak. Karena Nabi Shalalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari : حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menegakkan lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". Dan beliau Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan apabila ia mengetahui maka ia mendapatkannya. Maka tidak disyaratkan untuk mendapatkan pahala lailatur qadar , seseorang itu harus mengetahui dengan pasti malam itu. Akan tetapi kita katakan, barang siapa yang mengerjakan qiyamullail pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan seluruhnya, maka kami tegaskan bahwa ia pasti mendapatkan malam lailatul qadar, baik dipermulaan sepuluh hari terakhir, pertengahan, atau diakhirnya. Dan hanya Allah-lah Maha Pemberi taufik. Dari penjelasan syaikh Utsaimin yang ditampilkan diatas, maka sangatlah nyata bahwa siapa saja dari kaum muslimin yang ada dimuka bumi ini baik ia melakukan ‘itiqaf dimasjid ataupun yang b erada dirumah pasti akan menemukan malam penuh keberkahan dan kemuliaan serta akan mendapatkan ganjaran yang lebih b aik dari seribu bulan dibanding dengan beribadah didalam-dalam bulan-bulan lain, dengan catatan apabila yang bersangkutan melakukan qiyamullail.Karena ganjaran yang lebih b aik dari seribu bulan itu hanya diberikan kepada mereka-mereka yang memenuhi persyaratan yang digariskan yaitu. Tanpa melakukan qiyamullail janganlah berharap mendapatkannya. Dikemukakan pula bahwa barang siapa yang terhalang dari beribadah pada malam lailatul qadar, sungguh ia telah terhalang dari kebaikan seluruhnya dan tidaklah terhalang dari kebaikan malam itu kecuali orang-orang yang mahruum ( terhalang dari kebaikan). Oleh karenanya, setiap muslim sangat dianjurkan utnuk menghidupkan lailatul qadar dengan penuh iman danmenghaqrap pahala yang dijanjikan. Sehingga apabila ia ikhlas melaksanakannya, dosa-dosa dan kesahalan yang pernah ia goreskan dimasa lalu dapat diampuni. Kemudian berdasarkan ayat-ayat yang tertera dalam al-qur’an surah al-Qadr, disebutkan bahwa adanya kemuliaan itu berupa lailatul qadar berlangsung pada malam hari . Sesuai dengan pengertian malam menurut bahasa yaitu sejak tenggelamnya matahari. Maka malam lailatur qadar tersebut tentunya dimulai sejak magrib dan berakhir sampai terbitnya fajar ( lihat surah al-Qadr ayat 4 ). Dari pengertian tersebut, maka siapapun saja yang melakukan ibadah sejak magrib sampai terbitnya fajar baik berupa ibadah fardu seperti shalat magrib dan isya, maupun shalat rawatib yang mengikutinya, qiyamullail (termasuk didalamnya qiyamullramadhan) serta ibadah-ibadah sunah lainya berupa membaca al-Qur’an, mereka akan memperoleh apa yang dinamakan dengan lailatul qadar secara penuh. Namun apabila ada diantaranya ibadah yang tertinggal maka tentunya apabila dihitung secara matematis kebaikan dan keberkahan malam lailalatur qadar tersebut disesuaikan dengan aktifitas dan kuantitas ibadahnya. Janganlah seseorang sudah merasa tercukupi dengan ibadah fardunya saja, sedangkan ibadah sunahnya diabaikan, sehingga bagaimana mungkin memperoleh ganjaran yang besar. Anggapan Yang Keliru Tentang Malam Lailatul Qadar. Sejak lama hingga sekarang ini berkembang anggapan di tengah-tengah kalangan kaum muslimin terutama mereka yang masih jahil terhadap agama dan syari’atnya, mengenai anggapan dan gambaran mereka yang keliru dan melampaui batas dengan kisah-kisah khurafat dan keyakinan bathil. Bahwa pada saat turunnya lailatul qadar ditandai dengan berbagai ragam yang bersifat aneh dan diluar jangkauan nalar manusia, seperti adanya cahaya yang terang benderang ditengah kegelapan malam, pohon-pohon pada su jud, air menjadi beku. Dan pada saat tersebut seluruh doa yang dipanjatkan oleh mereka yang menemuinya, akan segera terkabulkan,misalnya ada yang berdoa minta kaya, maka saat itu secara otomatis apa yang dipegangnya menjadi emas, seperti membawa air dalam ember berubah menjadi emas. Kadang-kadang orang yang menemui lailatur qadar mendengar adanya ucapan salam dari malaikat . Serta banyak kisah-kisah lain lagi seperti seseorang yang mampu menyembuhkan seluruh penyakit setelah yang bersangkutan mendapatkan lailatur qadar berupa seberkas cahaya yang masuk kedalam tubuhnya. Kisah-kisah seperti tersebut dikatakan khurafat dan bathil karena tidak ada satupun riwayat dari Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabat dan para tabi’in serta tabi’ut tabi’in mengenai pernah adanya kejadian seperti tersebut. Berkembangnya kisah-kisah khurafat dan bathil mengenai malam lailatul qadar tersebut diatas adalah hanyalah ulah dari para pembuat bid’ah yang menyesatkan, tetapi sayangnya kisah-kisah khurafat tersebut oleh kebanyakan para ustadz dan kiai didiamkan saja. Perlu diketahui bahwa sesuai dengan keterangan yang tertuang dalam al-Qur’an dan as-sunnah semua ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada hambanya yang berbuat kebajikan dan amal shalih akan diperoleh kelak dikemudian hari diakhirat, ataupun mungkin diberikan juga balasan didunia oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada seseorang berupa ganjaran semakin meningkatnya amal kebajikan dan keshalihannya. Demikian pula tentunya dengan kebaikan dan keberkahan yang ada dimalam lailatur qadar yang nilainya melebihi seribu bulan yang diberikan kepada mereka-mereka yang melakukan amal ibadah dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan dimalam-malam lainnya yang tidak ada lailatul qadarnya. Ganjaran yang diperoleh tersebut bukanlah dalam bentuk yang nyata dan berbentuk materi, tetapi dalam bentuk nilai-nilai pahala. Untuk Mememperoleh Lailatul Qadar Tidaklah Harus Beribadah Semalam Suntuk. Ada satu kesalahan yang ditengarai sering dilakukan oleh mereka yang menginginkan memperoleh malam lailatul qadar, yaitu dengan melakukan ibadah dan qiyamullail semalam suntuk hingga pagi tanpa beristirahat, karena mereka berpegang kepada haditsnya Aisyah radhyallaahu anhuma yang diriwayatkan oleh Muslim yang salah dimengertikan oleh mereka : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ كِلَاهُمَا عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ يَقُولُ سَمِعْتُ الْأَسْوَدَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Abu Kamil Al Jahdari keduanya dari Abdul Wahid bin Ziyad - Qutaibah berkata- Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid dari Al Hasan bin Ubaidullah ia berkata, saya mendengar Ibrahim berkata; saya mendengar Al Aswad bin Yazid berkata, Aisyah berkata; "Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya." Padahal Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhyallaahu anhuma sebuah hadits : و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا عِيسَى وَهُوَ ابْنُ يُونُسَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنْ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَتْ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ وَمَا صَامَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا إِلَّا رَمَضَانَ “Dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Khasyram telah mengabarkan kepada kami Isa yaitu Ibnu Yunus, dari Syu'bah dari Qatadah dari Zurarah dari Sa'd bin Hisyam Al Anshari dari 'Aisyah katanya; "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan suatu aktivitas, maka beliau berusaha melanggengkannya (menjadikan abadi, rutin), jika beliau ketiduran malam hari atau sakit, maka beliau melaksanakan shalat dua belas raka'at di siang harinya." 'Aisyah melanjutkan; "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam hingga pagi hari, dan beliau juga tidak pernah berpuasa sebulan penuh secara turut berturut selain bulan Ramadhan." Syaikh Ali Hasan sebagaimana yang dikutip oleh Ustadz Abu Musa al-Atsari, berkata seraya mengomentari hadits diatas, dari hadits ini kita mengetahui kesalahan orang orang mengerjakan qiyamullail (begitu juga ibadah yang lain) hingga pagi. Sebab, yang sedemikian berpotensi melelahkan dan melemahkan badan. Dan juga menyelisihi pentunjukNabi shallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya marilah kita isi beberapa hari tersisa dari bulan ramadhan ini, yang mungkin saja dimalam yang tersisa tersebutlah berlangsungnya malam lailatur qadar, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui rahasia tentang kapan waktunya lailatul qadar tersebut berlangsung. Bahkan seandainya ternyata malam lailatul qadar tersebut telah berlangsung dimalam-malam yang telah berlalu, yakinlah ibadah yang akan kita lakukan dimalam-malam yang tersisa dibulan ramadhan ini tetap mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dibandingkan dengan ganjar pahala dari ibadah yang dilakukan pada malam-malam diluar ramadhan. Wallaahu ta’ala ‘alam. Sumber bacaan: 1. Al-Qur’an ( program software Salafi D.B) 2. Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam (CDHK 91)/program software Lidwa Pusaka. 3. Lailatur Qadar Malam Kemulian Ustadz Abu Musa al-Atsari, majalah Adz-Dzakhiirah, vol.8 No.1/Edisi 43/1429 H Ba’da shubuh, Ahad- 25 Ramadhan -1431 H/5 September 2010. (Musni Japrie )

Senin, 30 Januari 2012

" RINTIHAN DALAM BERDOA "




Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam, surah al-Baqarah ayat 186 :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ayat tersebut diatas menunjukkan tiga hal yan g harus diperhatikan oleh hamba-hamba Allah, yaitu :Pertama, bahwa Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia, sehingga apabila meminta tidak harus dengan suara keras. Karena Allah itu Maha Mendengar.

Kedua, Allah pasti mengabulkan setiap permintaan hamba-hamba-Nya.

Ketiga, kewajiban bagi seluruh hamba-hamba Allah untuk menunaikan segala perintah dan beriman kepada-Nya sebagai persyaratan mutlak terpenuhinya doa yang dipanjatkan.

Seorang hamba yang memanjatkan doa sangat dianjurkan agar melakukannya dengan rendah hati, tadhoru dan khauf sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah :

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِ

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai( QS.Al A’raf:205)

Nuansa bathin dan getaran kalbu diungkapkan dengan transparan dan mencampakkan jauh-jauh segala atribu keduniaan, baik pangkat, kedudukan ,jabatan, status, berharta atau hanya seorang papa tak berharta. Kita lembutkan hati dan menyatukan ucapan lidah dengan getaran kalbu. Dengan demikian, berdoa bukan hanya sekedar ucapan. melainkan sebuah rintihan jiwa yang menjerit.

Itulah sebabnya, ujngkapan doa bukan lah bentuk perilaku yang mengharapan penilaian manusia, melainkan bathin yang merintih. Bahkan tak jarang meneteskan air mata. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

سنن الترمذي ٢٢٣٣: حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَسْعُودِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي رَيْحَانَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ وَهُوَ مَدَنِيٌّ ثِقَةٌ رَوَى عَنْهُ شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ

Sunan Tirmidzi 2233: dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tidak masuk neraka orang yang menangis karena takut Allah hingga susu kembali lagi ke kantung susu dan tidaklah menyatu debu dijalan Allah dan debu jahannam.

Pernah suatu waktu Rasulullah berlinang air matanya pada saat Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat-ayat Al-Qu’ran.Sebagaimana tercantum dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud :

سنن الترمذي ٢٩٥١: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ

{ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا }

قَالَ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَهْمِلَانِ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الْأَحْوَصِ حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ الْأَعْمَشِ نَحْوَ حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ هِشَامٍ

Sunan Tirmidzi 2951: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Al A'masy dari Ibrahim dari 'Abidah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda kepadaku: "Bacalah (al Qur'an) untukku." Aku menjawab; "Wahai Rasulullah, haruskah aku membacanya, sementara (Al Qur'an) diturunkan kepadamu?" beliau bersabda: "Aku lebih senang mendengarnya dari orang lain." lalu kubaca surat an Nisa`, ketika sampai pada ayat Dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). QS An-Nisa`: 41, kulihat kedua matanya berlinang air mata." Abu Isa berkata; Hadits ini lebih shahih dari hadits Al Ahwash. Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nashr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Sufyan dari Al A'masy seperti hadits Mu'awiyah bin Hisyam.

Dalam peristiwa lain diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sedang sakit keras menjelang wafatnya, sahabat Abu Bakar radhyallahu’anhuma diminta menggantikan beliau jadi imam, namun Siti Aisyah isteri Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam berkeberatan karena Abu Bakar selalu menangis setiap menunaikan shalat.

Doa telah membentuk batin yang tangguh, melahirkan pribadi-pribadi yang tidak tacit dengan dunia. Tidak goyah kepribadiannya walaupun dirinya diuji dengan ketakutan dan kekuarangan makanan, mereka bersabar dan istiqomah, sambil terus berikhtiat dan mengembalikannya kepada Dia yang Maha Pengasih, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" [101].


[101] Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat "istirjaa" (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya

Orang berimana sangat yakin bahwa rintihan doanya pasti akan dikabulkan Allah, sehingga betapun banyak orang terguncang menghadapi krisis, dia tetap mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak kehilangan arah. Baginya betapapun hebatnya krisis maupun kesulitan yang menghimpit, bukanlah hari kiamat, tetapi dihadapinya sebagai kendala yang terkendali, sebuah tantangan yang mengasyikkan. Dalam rintihan doa dia merasakan seluruh jiwa dan raganya terasa bugar untuk tampil jadi seorang hamba yangb tetap mempunyai arti.

Apabila dia dipanjatkan dengan merintih, penuh keyakinan, niscaya pintu langit akan terbuka ditembus doa., karena tidak ada yang musykil bagi Allah untuk mengabulkannya.

Selama ini sering kita berdoa untuk keselematan diri sendiri dan keluarga, sebaliknya jarang sekali diantara kita yang secra sendirian meluangkan doa untuk bangsa dan Negara. Marilah kita jujur pada diri sendiri, pernahkah kita mengambil saat yang sangat khusus mendoakan keselamatan bangsa dan Negara yang kita cintai ini. (Wallahu’alam)

Sumber : Hikmah Harian Republika