Minggu, 13 November 2011

"PERLUAS CAKRAWALA ANDA TENTANG ISBAL : PENDAPAT IBNU TAIMIYAH

وَصْلٌ : قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في : ((اقتضاء الصراط المستقيم)) (1/383) : “وأما ما ذكره أبو الحسن الآمدي وابن عقيل : من أن السدل هو إسبال الثوب بحيث ينـزل عن قدميه ويجره ، فيكون هو إسبال الثوب وجره المنهي عنه : فَغَلَطٌ مخالف لعامة العلماء . وإن كان الإسبال والجر منهياً عنه بالاتفاق والأحاديث فيه أكثر ، وهو محرم على الصحيح ، لكن ليس هو السدل “.
Dalam Iqtidha’ ash Shirath al Mustakim 1/383, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Pendapat Abul Hasan al Amidi dan Ibnu Aqil yang mendefinisikan sadl dengan isbal yaitu kain yang terjulur melebihi dua telapak kaki sehingga kain tersebut menyapu tanah. Artinya sadl itu sama dengan isbal dan menyeret kain yang terlarang. Ini adalah pendapat yang keliru dan menyelisihi pendapat mayoritas ulama. Meski isbal dan menyeret kain adalah terlarang dengan sepakat ulama hadits-hadits yang membahasnya banyak dan isbal adalah haram menurut pendapat yang benar namun isbal itu beda dengan sadl.
وقال أيضاً – كما في : ((مجموع الفتاوي)) (22/144) – ” فجواباً عن سؤال نَصّه : ( وسئل عن طول السراويل إذا تَعَدَّى عن الكعب ، هل يجوز ؟ ) طول القميص والسراويل وسائر اللباس إذا تعدى ليس له أن يجعل ذلك أسفل من الكعبين كما جاءت بذلك الأحاديث الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم ” .
Ibnu Taimiyyah mendapatkan pertanyaan tentang panjang ujung celana yang melewati mata kaki apakah ini diperbolehkan? Jawaban beliau sebagaimana dalam Majmu Fatawa 22/144, “Panjang ujung gamis, celana dan berbagai model pakaian yang lain tidak boleh berada di bawah mata kaki sebagaimana yang terdapat dalam berbagai hadits yang shahih dari Nabi”.
وقال أيضاً ـ كما في : ((المجموع)) (22/139) ـ : “ومن لبس جميل الثياب إظهاراً لنعمة الله ، واستعانة على طاعة الله : كان مأجوراً . ومن لبسه فخراً وخيلاء كان آثماً ؛ فإن الله لا يحب كل مختال فخور ، ولهذا حَرّم إطالة الثوب بهذه النية ، كما في الصحيحين عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(( من جر إزاره خيلاء لم ينظر الله يوم القيامة إليه )) ،
Dalam Majmu Fatawa 22/139, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Siapa saja yang memakai pakaian yang indah dalam rangka menampakkan nikmat Allah yang dia dapatkan dan dalam rangka memanfaatkan pakaian untuk taat kepada Allah maka orang semisal ini mendapat pahala. Sedangkan orang yang memakai pakaian dalam rangka membanggakan dan menyombongkan diri maka dia berdosa. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Oleh karena itu Allah mengharamkan perbuatan memanjangkan ujung kain dengan niat semisal ini. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda, “Barang siapa yang menyeret ujung kainnya karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya pada hari Kiamat nanti”.
فقال أبو بكر : يا رسول الله إن طرفي إزاري يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه، فقال : (( يا يا أبابكر إنك لست ممن يفعله خيلاء )) . وفي الصحيحين عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : (( بينما رجل يجر إزاره خيلاء ، إذ خسف الله به الأرض فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة )) ” . انتهى كلامه رحمه الله ، فَلَيُتَـأمَّل .
Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, salah satu sisi sarungku itu melorot jika tidak aku ikat dengan baik”. Nabi bersabda, “Wahai Abu Bakar, engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena kesombongan”. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi bersabda, “Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena kesombongan, Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia kejel-kejel (meronta karena tersiksa) di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi”. Renumgkanlah perkataan Ibnu Taimiyyah di atas.

مع كون ابن مفلح رحمه الله في : (( الآداب الشرعية )) ( 3/493 ) يقول : (( واختار الشيخ تقي الدين رحمه الله – أي : ابن تيمية – عدم تحريمه ، ولم يَتَعَرَّض لكراهة ولا عدمها )) ا . هـ وحكاه السفاريني رحمه الله في : (( غذاء الألباب )) ( 2/215 ) عن (( الآداب )) لابن مفلح
Padahal dalam al Adab al Syar’iyyah 3/493, Ibnu Muflih mengatakan bahwa pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah adalah tidak haramnya isbal tanpa sombong dan beliau tidak menyinggung apakah hukumnya makruh ataukah tidak. Pendapat Ibnu Taimiyyah ini juga dikutip oleh as Safariyani dalam Ghidza al Albab 2/215 menukil dari al Adab al Syar’iyyah karya Ibnu Muflih.
قال البرهان ابن مفلح رحمه الله في : (( المقصد الأرشد )) (2/519): (( قال ابن القيم لقاضي القضاة موفَّق الدين الحجَّاوي سنة إحدى وثلاثين : ما تحت قُبَّة الفلك أعلم بمذهب الإمام أحمد من ابن مفلح . وحضر عند الشيخ تَقِيّ – أي : ابن تيمية – ونَقَل عنه كثيراً ، وكان يقول له : ما أنت ابن مفلح أنت مفلحٌ . وكان أخبر الناس بمسائله واختيارته حتى إن ابن القيم كان يُراجعه في ذلك)) ا.هـ
Al Burhan Ibnu Muflih dalam al Maqshad al Arsyad 2/519 mengatakan bahwa Ibnul Qayyim berkata kepada hakimnya para hakim yaitu Muwaffaquddin al Hajawi, “Tidak ada di bawah kolong langit ini yang lebih menguasai tentang pendapat-pendapat Imam Ahmad dibandingkan Ibnu Muflih. Ibnu Muflih sering mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah dan sering kali mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah pernah berkata kepada Ibnu Muflih, “Engkau bukan Ibnu Muflih (anak orang yang beruntung) namun engkau adalah Muflih (orang yang beruntung)”. Beliau adalah orang yang paling mengusai pendapat-pendapat Ibnu Taimiyyah sampai-sampai Ibnul Qayyim sering berkonsultasi kepada Ibnu Muflih tentang pendapat Ibnu Taimiyyah”.
فائـدة :
للأمير الصنعاني رحمه الله جزء في المسألة سماه : ((استيفاء الأقوال في تحريم الإسبال على الرجال)) ،
Amir ash Shan’ani memiliki buku tentang masalah isbal yang berjudul Istifa al Aqwal fi Tahrim al Isbal ala ar Rijal.
وخلاصته قوله فيه (ص26) : ” وقد دلَّت الأحاديث على أن ما تحت الكعبين في النار ، وهو يفيد التحريم . ودل على أن من جَرّ إزاره خيلاء لا يَنْظر الله إليه ، وهو دال على التحريم ، وعلى أن عقوبة الخيلاء عقوبة خاصة هي عدم نظر الله إليه ، وهو مما يُبْطل القول بأنه لا يحرم إلا إذا كان للخيلاء” . أ.هـ ،
Kesimpulannya ada pada hal 26. beliau mengatakan, “Terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa kain yang berada di bawah mata kaki itu di neraka. Ini menunjukkan bahwa hukum hal tersebut adalah haram. Demikian pula terdapat hadits yang menunjukkan bahwa orang menyeret kainnya karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa menyeret kain hukumnya haram. Mengingat bahwa hukuman untuk menyeret kain karena sombong adalah hukuman yang berbeda yaitu Allah tidak akan memandangnya maka realita ini membatalkan anggapan bahwa tidak ada isbal yang haram melainkan jika karena kesombongan”.
ولعل رسالة الصنعاني هذه هي الَمَعِْنيّة في قول الشوكاني رحمه الله في : ((نيل الأوطار)) (1/641) : ” وقد جمع بعض المتأخرين رسالة طويلة جزم فيها بتحريم الإسبال مطلقاً “. ا.هـ
Boleh jadi buku karya ash Shan’ani di atas adalah yang dimaksudkan oleh Syaukani dalam perkataannya di Nailul Authar 1/641, “Seorang ulama belakangan telah menulis sebuah buku cukup tebal. Di buku tersebut penulis menegaskan bahwa hokum isbal adalah haram secara mutlak”.
تنبيـه :
قال شيخ الإسلام رحمه الله في : ((شرح العمدة)) (ص367) : “وأما الكعبان أنفسهما فقد قال بعض أصحابنا : يجوز إرخاؤه إلى أسفل الكعب، وأما المنهي عنه ما نزل عن الكعب .
Dalam Syarh Umdah al Fiqh hal 367, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Tentang mata kaki, sebagian ulama Hanabilah membolehkan untuk menjulurkan ujung kain hingga menutupi mata kaki karena yang terlarang adalah menjulurkan ujung kain sehingga berada di bawah mata kaki.
وقد قال أحمد : (أسفل من الكعبين في النار) وقال ابن حرب : ( سألت أبا عبد الله عن القميص الطويل ؟ فقال : إذا لم يُصِب الأرض ؛ لأن أكثر الأحاديث فيها ما كان أسفل من الكعبين في النار ) .
Imam Ahmad mengatakan, “Ujung kain yang berada di bawah mata kaki itu di neraka”. Ibnu Harb mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang gamis panjang”. Jawaban Imam Ahmad, “Boleh jika tidak sampai menyentuh tanah karena mayoritas hadits mengatakan ujung kain yang berada di bawah mata kaki itu di neraka”.
وعن عكرمة قال : رأيت ابن عباس يأتزر فيضع حاشية إزاره من مقدمه على ظهر قدمه، ويرفع من مؤخره . فقلت : لِمَ تأتزر هذه الأزرة ؟ قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتزرها ) رواه أبو داود .
Dari Ikrimah, Aku melihat Ibnu Abbas bersarung. Ujung sarungnya yang bagian depan itu menyentuh punggung telapak kaki. Sedangkan yang bagian belakang agak beliau tinggikan. Aku bertanya kepada beliau, “Mengapa anda bersarung seperti itu?”. Ibnu Abbas berkata, “Aku pernah melihat Nabi bersarung seperti itu” (HR Abu Daud).
وقد رُوي عن أبي عبد الله أنه قال : (لم أحدث عن فلان لأن سراويله كان على شراك نعله )
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau pernah berkata, “Aku tidak mau meriwayatkan hadits dari A karena ujung celana panjangnya menyentuh tali sandalnya”.
وهذا يقتضي كراهة ستر الكعبين أيضاً لقوله في حديث حذيفة : ( لا حَقّ للإزار في الكعبين ) .
Hal ini menunjukkan makruh hukumnya jika mata kaki sampai tertutup ujung kain. Dalil makruhnya hal ini adalah hadits dari Hudzaifah, Nabi bersabda, “Ujung kain sarung tidak memiliki hak untuk berada pada mata kaki”.
وقد فَرَّق أبو بكر وغيره من أصحابنا في الاستحباب بين القميص وبين الإزار فقال : (يستحب أن يكون طول قميص الرجل إلى الكعبين أو إلى شراك النعلين ، وطول الإزار إلى مراقّ الساقين ، وقيل إلى الكعبين) “ا.هـ
Tentang posisi ujung kain yang dianjurkan Abu Bakar dan ulama Hanabilah yang lain membedakan antara gamis dan sarung. Abu Bakar mengatakan bahwa yang dianjurkan ujung gamis seorang laki-laki itu sampai mata kaki atau tali sandal. Sedangkan untuk ujung sarung dianjurkan sampai pertengahan betis namun ada juga yang mengatakan sampai mata kaki”.
تنبيـه :
قال شيخ الإسلام رحمه الله في : ((شرح العمدة)) (ص366) :
” وبكل حال فالسنة تقصير الثياب ، وحَدّ ذلك : ما بين نصف الساق إلى الكعب ، فما كان فوق الكعب فلا بأس به وما تحت الكعب في النار ” ا.هـ.
Dalam Syarh Umdah al Fiqh hal 366, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Yang jelas, yang sesuai dengan sunnah Nabi adalah meninggikan ujung kain. Batasannya adalah pertengahan betis sampai mata kaki. Jika ujung kain di atas mata kaki maka hukumnya boleh sedangkan jika di bawah mata kaki maka itu di neraka”.
وقال في : ((الإنصاف)) : (1/372) : “يكره أن يكون ثوب الرجل إلى فوق نصف ساقه ، نَصّ عليه ” .
Dalam al Inshaf 1/372 disebutkan, “Makruh hokum jika ujung kain seorang laki-laki itu di atas pertengahan betis. Demikian penegasan Imam Ahmad”.
وقال ابن قاسم رحمه الله في : ((حاشية الروض)) (1/528) : ” لأن ما فوقه مَجْلَبة لانكشاف العورة غالباً ، وإشهار لنفسه ، ويتأذَّى الساقان بحر أو برد . فينبغي كونه من نصفه إلى الكعب ، لبعده من النجاسة والزهو والإعجاب
Dalam Hasyiah ar Raudh al Murbi’ 1/528, Ibnu al Qasim mengatakan, “Dimakruhkan jika ujung kain seorang laki-laki itu di atas pertengahan beris karena jika berada di atasnya pertengahan betis kemungkinan besar aurat bisa tersingkap. Alasan yang lain karena hal semisal itu merupakan gaya berpakaian yang menyebabkan buah bibir. Di samping betis akan mendapatkan bahaya berupa kepanasan atau kedinginan. Sehingga sepatutnya posisi ujung kain adalah antara pertengahan betis sampai mata kaki sehingga lebih aman dari terkena najis, sombong dan bangga dengan diri sendiri”.
” . وقال شيخ الإسلام في : ((شرح العمدة)) (ص368) : ” ويكره تقصير الثوب الساتر عن نصف الساق ،
Dalam Syarah Umdah al Fiqh hal 368, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Makruh hukumnya meninggikan ujung kain hingga berada di atas pertengahan betis.
قال إسحاق ابن إبراهيم: دخلت على أبي عبد الله وعَلَيَّ قميص قصير أسفل من الركبة وفوق نصف الساق فقال : ( إيش هذا ؟ وأنكره .
Dari Ishaq bin Ibrahim, beliau bercerita bahwa pada suatu hari beliau menemui Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dalam keadaan panjang jubah beliau itu tepat di bawah lutut dan di atas pertengahan betis. Melihat hal tersebut Imam Ahmad berkomentar, “Apa-apaan ini?”. Beliau menyalahkan cara berpakaian seperti itu.
وفي رواية : إيش هذا ؟ لِمَ تُشَهِّر نفسك ؟ )
Dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad mengatakan, “Apa-apaan ini? Mengapa engkau melakukan hal yang menyebabkan engkau menjadi buah bibir?
وكذلك لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “حَدّ أزرة المؤمن بأنها إلى نصف الساق”، وأمر بذلك ،
Demikianlah sikap yang benar karena Nabi bersabda, “Batas (tertinggi) ujung sarung seorang mukmin adalah sampai pertengahan betis”. Hal ini juga yang Nabi perintahkan.
وفعله في زيادة الكشف تَعْرية لما يشرع ستره ، لاسيما إن فُعل تديناً فإن ذلك تَنَطّع وخروج عن حَدّ السنة واستحباب لما لم يستحبه الشارع ” انتهى .انظر : ( كتاب المسائل ) ص 84 ]
Jika ujung kain lebih tinggi dari pertengahan betis maka ini menyebabkan terbukanya suatu yang seharusnya ditutupi. Lebih-lebih lagi jika hal ini dianggap sebagai bagian dari agama maka ini termasuk sikap berlebih-lebihan, keluar dari batasan yang telah ditetapkan oleh sunah dan menganjurkan hal yang tidak dianjurkan oleh syariat”.

-Selesai-

Sumber: http://www.saaid.net/Doat/asmari/fatwa/4.htm

Artikel www.ustadzaris.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar